Dèjá Vu

Dèjá Vu

  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 12, 2024
Laksa selalu memimpikan seorang perempuan yang sama. Dan karena mimpi itu, Laksa merasa frustasi. Untuk menghilangkan frustasinya Laksa menuangkan mimpinya pada kanvas lukis. Hingga pada akhirnya Laksa bertemu dengan perempuan yang selalu menerornya lewat mimpi. Tanpa basa-basi, Laksa mengajak perempuan itu untuk menikah. Laksa berpikir itu salah satu cara agar Laksa berhenti bermimpi lagi. Pernikahan itu berjalan sesuai harapan Laksa. Namun, seiring dia bersama dengan perempuan itu, dia selalu merasa apa yang dilakukan dengan perempuan itu dia merasa pernah melakukannya. Tapi dia tidak tahu kapan dan di mana. Deja vu? Apakah Laksa mengalami deja vu? Tapi apa deja vu bisa sesering itu? Laksa benar-benar merasa tidak asing dengan semuanya. Original story by chocco milk! Jangan lupa add to your library! Happy Reading! Aku suka nulis dan baca. Tapi ya nggak baca karya sendiri juga.🥺
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benci Raka Cakrawala || TERBIT
  • Aracha
  • Geschiedenis : The Line of Historia [HIATUS]
  • syanin
  • Be with you
  • Neyralgis||On Going
  • MetamorfoSoul
  • Iiiiiih, Mas Kahfi!
  • Dreams Come True [END]
  • Devilicya [END]

🗣️ attention! Bijak dalam membaca, dikarenakan karya ini sudah terbit✨ SPOILER "Bangun Lya." Malya menoleh. "Raka?" "Ada yang mau gue omongin." Malya mengernyit. "Kamu mau jawab semua pertanyaan aku?" "Lo harus nikah sama gue." Malya syok. "Hah?" Ia pun beranjak dari duduknya, lalu seketika menghampiri Raka. "Kamu nggak waras ya?" ketusnya. "Gue nggak minta lo jawab sekarang, gue bakal kasih lo waktu." "Kamu gila Raka! Mama aku baru aja meninggal, kamu mau kita nikah! Di mana otak kamu!" Spontan Malya emosi. Tidak ada respon dari Raka, diamnya membuat Malya semakin geram. "Aku gamau kamu ada di sini. Lebih baik, kamu pergi!" "Lo bisa jadiin gue tersangka dalam kasus pembunuhan Mama lo." "Apa kamu yang membunuh Mama aku?" Suara Malya dengan parau. Lagi dan lagi pertanyaan Malya dijawab sama oleh diamnya Raka, yang membuatnya yakin bahwa Raka benar membunuh Mamanya. Meskipun tak mengatakan iya, perasaan sakit menjalar ke raga Malya. Plakkkhhhh. Tamparan keras dari Malya pada Raka. Sekaligus tamparan pertama bagi seorang Raka. "Kenapa kamu lakuin itu! Apa salah Mama aku sama kamu!" ucap Malya emosi yang seketika air matanya kembali berderai begitu saja. Ia mendorong kasar dada Raka semampunya, dengan tenaga yang tersisa. Hikkksss hikkksss hikkksss. "Kamu nggak ada otak Raka! Kamu gila!" rintihnya kembali lalu jatuh terbungkuk melemah. Seketika Raka berbalik, lalu meninggalkan Malya begitu saja. Langkahnya memberikan interupsi pada dua pengawal di sana untuk mereka membawa Malya. "Aku mau dibawa kemana, lepasin!" Sontak Malya terkejut kala kedua tangannya diraih oleh dua orang berbadan besar. "Tolong nyonya, biarkan kami menjalankan tugas." "Aku benci sama kamu Raka! Aku benci! Dasar pembunuh!" emosi Malya yang sama sekali tak dihiraukan oleh Raka. ~: Langsung baca aja yuk!!!🙌🧐

More details
WpActionLinkContent Guidelines