Serenade Seuntai Harapan

Serenade Seuntai Harapan

  • WpView
    Reads 333
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 16, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Andai jemariku bisa merajut kembali ikatan yang terputus oleh takdir. Andai sayapku cukup besar untuk menampung segala ketidaksempurnaan mu. Andai tanganku bisa menghentikan langkah mu yang semakin lama kian menjauh dari tempatku bersinggah. Tangisanku untuk hati yang tersayang. Pena ku untuk diri yang terluka" _________ ׂׂૢ་༘࿐ Kisah tentang keegoisan. Tentang hati yang saling melukai. Tentang menerima. Tentunya, tentang harapan yang menjadi pelita di dalam kegelapan.
All Rights Reserved
#2
globalprestasischool
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • Aksara Bercerita
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Jeritan Anak Broken Home 17+
  • FIZYA
  • DEPRESSION
  • Let Me Love You Longer
  • ALVIN (On Going)

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines