TEMAN (BIASA ATAU HIDUP?)

TEMAN (BIASA ATAU HIDUP?)

  • WpView
    MGA BUMASA 61
  • WpVote
    Mga Boto 12
  • WpPart
    Mga Parte 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Thu, May 16, 2024
Antara Penyanyi dan Hafidzah, antara dunia hiburan dan sabda suci. Antara tangan manusia dengan tangan Tuhan. Antara ke gemerlapan duniawi dan ketaatan. Dibalik itu semua, ada rasa terselip dalam suratanku untuk Tuhan. Sang Khalik tau, jikalau aku sedang mengharapkan seseorang untuk membimbing ku ke jalan yang benar. Dan antara Teman "Biasa atau Hidup", antara teman biasa yang sekadar kenal saja atau teman sehidup se-surga yang membawaku ke "Jannah"-Nya. Tapi aku tak tau siapa orangnya, karena hanyalah Tuhan yang tau. Yang pasti, aku hanya ingin menjalani hidup sesuai dengan keinginan ku, ingin menggapai karir yang lama sudah ku idamkan, dan teman-teman yang jelas dan tidak bermuka dua. Namun apakah bisa aku mendapatkan semua hal itu?
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Hear (Completed)
  • ZAHTHAR [END]
  • Al Fahri
  • Mendadak Gus
  • Antara Rasa dan Takdir
  • ALIF 2 : AGEN[IUS]
  • REVAN [SELESAI]
  • Efemeral
  • Aku Kamu Dan Dia

"Menurut lo, kehidupan itu apa?" Kepalaku sukses menoleh lagi ke arahnya, oke ini sangat random. Seorang laki-laki yang baru ku kenal, duduk di sampingku, kemudian menanyakan tentang sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sama sekali. "Hidup itu ketika kita bisa menghargai satu sama lain, peduli dan berbagi," jawabku sedikit ragu. "Dan ketika lo ngerasa nggak dihargai apa menurut lo, tetap bisa dianggap hidup?" Aku sedikit bingung. Namun aku akhirnya menganggukkan kepala. "Bagaimanapun kalau Tuhan belum jemput kita untuk pulang, mau sekeras apapun hidup ini, kita harus tetap hidup kan?" "Lelah sama hidup ini nggak?" ujarnya kembali menoleh. "Lelah, sakit, capek. Rasanya pengen mati aja," sahutku ikut menoleh ke arahnya. "Tapi, kalau kita ngeluh bukannya beban kita justru semakin bertambah? Dan kita malah jadi nggak bersyukur sama hidup yang udah Tuhan kasih."

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman