We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Copypast(e)

Copypast(e)

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 15, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai senang menyendiri. Ditemani secangkir kopi rasanya sudah senang bertubi-tubi. Menyesapi hingga akhir tetesnya, membuatku lega. Seakan lukaku ikut terhabisi juga. Tidak, aku bukan perempuan yang tak butuh cinta. Awalnya aku perempuan yang butuh cinta. Rela melakukan segalanya demi cinta. Namun orang yang butuh ternyata mudah dibodohi. Mudah pula diiming-imingi sebuah janji. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi. Tak percaya arti sucinya cinta lagi . Kopi menjadi satu-satunya tempat berbagi sekarang. Kopi yang selalu menunggu aku habisi, tanpa pergi sebelum aku suruh ia pergi. Cangkirnya tidak pernah meninggalkanku. Jika penatku, lelahku terobati, justru akulah yang meninggali. Sendiri bagiku cukup sekarang. Hanya butuh ditemani secangkir kopi berulang2, aku sudah girang. Lelah dengan sosok manusia, kalau minum sendiri sudah nyaman ,rasanya, buat apa berdua ????
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DIA SUNSETKU
  • Nothing, But You...
  • The Chronicle of 35 year old woman
  • [ COMPLETED] AFTER WORK
  • Cinta Secangkir Kopi
  • Secangkir Kopi Vanilla [Tamat]
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • HATI YANG TERSAKITI

"Aku mencintaimu tak perlu batas waktu seperti hidupku ini. Mencintaimu benar- benar membuatku tak ingat bahwa aku hampir menyerah oleh keadaan ini. Cintaku kepadamu menguatkanku untuk menjalani sisa-sisa dari diriku yang sekarang ini. Jangan pergi dan jangan pernah hilang dari hidupku yang tinggal sebentar ini. Jangan pernah ragu dan aku mohon tetaplah mencintai dan tinggal lebih lama seperti langit mencintai isinya. Aku mencintaimu sunsetku..." Aku Boy. Lelaki lemah yang hanya bisa mengharap cinta dari orang-orang terdekatku. Semenjak Ibuku meninggal, semua berubah tidak peduli kepadaku. Abangku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ayah yang bisa aku bilang super sibuk juga dengan perkerjaannya, kasar dan suka marah tanpa aku tahu sebabnya dan juga selalu memaksakan kehendaknya tanpa mendengarkan pendapat. Biar begitu, aku tetap menyayangi mereka. Sejak setahun yang lalu aku di vonis oleh dokter, aku sakit, umurku terbatas. Aku ingin di sisa-sisa umurku, aku bisa merasakan perhatian dan cinta dari orang-orang yang membuatku bahagia. Aku bertemu wanita. Lalu wanita itu datang di hidupku. Dia yang membuatku bahagia. Akankah aku bisa mendapat kebahagiaan? Akankah kebahagiaan itulah yang bisa membuatku bertahan? Akankah perhatian yang kudapat dahulu akan kembali?

More details
WpActionLinkContent Guidelines