We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Arwira
  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 17, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
" Lambung nya kuat minum susu ga ? " tanya Arwira pada Aulia yang sedang sakit kala itu, namun Aulia harus tetap menjalankan tugasnya untuk piket menjadi kasir di mini market sekolah pada hari itu. " kuat, kenapa ? " jawab Aulia dengan raut wajah yang sedikit kebingungan. Arwira meletakkan dua susu kotak diatas meja kasir mini market sekolah tepatnya didepan tempat duduk Aulia, " satu punya lo satu punya gue, jangan serakah. " Aulia sedikit bingung, namun Aulia paham maksud dan tujuan Arwira." Oh gini cara mainnya, oke deh gue masuk ke permainan lo hari ini. " Gumam Aulia di dalam hati.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Senyawa Abu-abu { F I N I S H }
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • Friendzone My Love
  • senior [END]
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Eat, Bread and Love (TAMAT)
  • Melody Arthadiesa

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines