Perempuan Malang

Perempuan Malang

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 15, 2024
Kisah ini berawal dari tulisan Amora, kalimat demi kalimat yang terangkai indah terbentuk menjadi sebuah cerita. Amora perempuan kelas 11 yang pindah dari ibu kota ke kota kelahirannya, Malang. Kota seribu pilu, kota yang menandai hilangnya memori indah Amora. Amora adalah perempuan seribu luka yang tertutup. Keindahan, keceriaan, keramahan, kesumringahan senyumnya membuat insan dunia tidak menyangka, bahwa Amora 'Perempuan Malang'. Saat ia pindah, kejadian demi kejadian mulai terukir. Seperti anak SMA kala itu, mencari arti apa itu cinta, mencari makna bagaimanna pertemanan yang tulus. Apakah ukiran itu indah? Atau sebaliknya? Yang pasti, Amora kini sangat beruntung bisa mengenal mereka semua.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yang Amerta di Dalam Aksara (HIATUS)
  • ALMA
  • Naura & Lukanya
  • 5 Years After Divorce
  • Lilin di tengah hujan [END]
  • Dilema (On Going)
  • Langit Yang Tak Lagi Biru
  • Nerd Outside Bad Inside

Kiran, seorang penulis muda yang jiwanya terperangkap dalam labirin kenangan. Dua tahun setelah kepergian Samudera, kekasihnya, dalam sebuah kecelakaan tragis, Kiran tak lagi menulis untuk dunia, melainkan hanya untuk satu pembaca; Samudera sendiri. Ia memahat setiap tawa, setiap tatapan, ke dalam aksara-aksara yang tak pernah ia terbitkan, menciptakan sebuah 'amerta'─keabadian─pribadi di mana samudera tak pernah benar-benar mati. Buku-buku usang, pena yang setia, dan aroma tinta adalah saksi bisu ritual nya, mengubah kamar menjadi sebuah tempat bagi masalalu. Namun, pengabdiannya pada kenangan mulai menggerogoti kehidupannya yang sekarang. Keluarga Kiran resah, teman-teman nya perlahan mulai menjauh, dan dunia menyusut menjadi sempit, hanya berputar pada poros Samudera. Ia seperti hantu yang melayang di antara baris-baris kalimatnya sendiri, menolak untuk bergerak maju. Hingga suatu hari, sebuah undangan pameran kaligrafi yang mulanya ia abaikan, secara tak terduga mempertemukannya dengan Arjuna, seorang seniman kaligrafi misterius dengan mata sekelam tinta cina dan tangan yang seolah menari di atas kertas. Arjuna, dengan caranya sendiri yang unik, tampak mampu menembus lapisan-lapisan aksara yang Kiran tulis, bukan sekedar membaca kata, melainkan merasakan emosi dan memori di baliknya. Interaksi mereka, yang mulanya canggung dan penuh resistensi dari Kiran, perlahan membuka celah pada benteng kesendirian yang ia bangun. Arjuna bukan pengganti Samudera, melainkan sebuah cermin yang memaksa Kiran melihat bahwa 'amerta' sejati bukanlah sebuah penjara kenangan, melainkan kemampuan untuk membiarkan kenangan hidup di dalam hati, tanpa harus menghentikan denyut kehidupan. Kiran harus menghadapi pertarungan terbesarnya; melepaskan genggaman pada masalalu yang abadi dalam aksara, demi merangkul masa kini yang menjanjikan 'amerta' dalam bentuk lain─kehidupan itu sendiri, dengan segala luka dan kemungkinan indahnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines