Arkatama | Park Jisung

Arkatama | Park Jisung

  • WpView
    Reads 1,125
  • WpVote
    Votes 771
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 21, 2024
Aku tidak tahu, kenapa ketika usiaku beranjak dewasa, aku semakin kesulitan untuk mengekspresikan setiap perasaan yang ada dalam diri sendiri. Aku lemah, tapi aku tidak bisa mengakui kelemahan ku. Aku hanya bisa berusaha tegar pada setiap hal yang terjadi. Bukan tanpa sebab, itu terjadi karena ketika aku menunjukan sisi lemah ku- mereka hanya menganggapnya acuh. Aku rindu masa kecilku. Masa dimana aku jujur dengan apa yang aku rasakan. Masa ketika aku menangis dan mengakuinya kepada orang-orang. Bukan menangis sendirian supaya orang-orang melihat bahwa aku baik-baik saja. Hidupku yang sekarang ini tidak jauh dengan seorang badut. Penuh drama dan tertutup topeng.
All Rights Reserved
#375
lokal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 8 LETTERS [chenle-ningning]
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • HILDAN'S STORY
  • GEVRONZ
  • Kuas,Cat dan Cinta
  • Shorts: Lee Cute Jeno [Selesai]
  • Halaman Hidupku
  • Dear Renjun || Nct Dream
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]

SMA punya banyak kenangan dan cerita menarik bagiku. Masa dimana aku mengenal dewasa dan segala hal baru tentang dunia. Tentang cerita dengan banyak gelak tawa dan bahagia, beragam luka dan obatnya, obrolan tengah malam, juga akhir pekan yang menyenangkan. Kepalaku memutar banyak ingatan acak dalam 3 tahun itu, dan nama Akalanka adalah yang paling bisa kukatakan menduduki posisi pertama kenangannya. Kami berdua mengukir banyak memori di setiap tempat favorit yang tidak pernah bosan dikunjungi. Bertukar cerita, walaupun awalnya kuakui agak sulit membuatnya sudi membuka suara. Saling menguatkan dan mendengarkan dengan cara yang berbeda, sampai mencari kebahagiaan kecil yang terselip di beberapa tepian adimarga yang sering kami lalui bersama. Selamat datang di lembar kenangan bahagia dan luka perihal kesayanganku. Kilas balik seorang laki-laki sehangat mentari pukul tujuh pagi, yang hilang membiarkan jejaknya melekat pada setiap sudut ruangan. Lalu sepenuh rindu, aku menunggunya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines