#5 Reasons Why I Love You - END

#5 Reasons Why I Love You - END

  • WpView
    Membaca 452,930
  • WpVote
    Vote 27,846
  • WpPart
    Bab 57
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Mar 23, 2026
Ternyata hal-hal yang orang bicarakan soal kehidupan orang dewasa itu memang benar adanya setelah Nada mengalaminya sendiri. Kehidupan percintaan orang dewasa ternyata tidak sesederhana itu. Dia kira pacaran itu sudah pasti satu agama. Kalau bukan ketemu berondong, ya suami orang. Hari ini kencan sayang-sayangan, lalu besoknya asing menyapa. Laki-laki dengan full effortnya di awal pun tidak menjamin dia serius. Giliran dia serius, tuhan kami tak sama. "Dunia terlalu bercanda. I'm such a lover girl," Nada mendesah panjang. Menyudahi tangisnya yang lima menit lalu mengucur deras bak air terjun. "But that's okay, I'll forever be a lover girl. Nothing can't change it. I've cried oceans and I'm still here with so much love." "The next man will get a better version of me. I promise." ucapnya penuh tekad pada diri sendiri setelah bertemu banyak plot twist di persimpangan jalan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#73
architect
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Mr. & Mrs Albrecht
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • After Divorce (Selesai)
  • Nearby Relations
  • Di Balik Kacamata [END]
  • BEST OF US - TERBIT CETAK
  • Untuk, Arunika ✔ [PROSES TERBIT]
  • Oddly Coupley (Complete)

Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan