Menunggu Matahari Terbit

Menunggu Matahari Terbit

  • WpView
    Membaca 55
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mei 25, 2024
WpInfo
Fiksi
Romansa
Menurutmu... apa yang akan kau ingat dalam kilas balik tujuh menit kehidupanmu saat ini? Apakah berisi tentang keluarga? Masa sekolah? Kucing yang aku elus di jalanan? Arunika.. cahaya merah hampir jingga di kala matahari terbit, sosok itulah yang akan menjadi apa yang terakhir aku lihat dalam kehidupanku. Sosok yang paling bersinar dan akan selalu aku pandang. Ada banyak hal-hal yang membuat dunia ini terang, salah satunya dia. banyakk warnaa di dirinyaa, selalu saja cahaya itu menerangi pemikiranku, membuat ku bersemangat dan membuat ku tak ingin menolehkan pandangan darinya, dan membuat ku berharap semua itu bertahan selama mungkinn namun seiring berjalannya waktu cahaya itu semakin menjauh dan pergi dariku seakan semua itu diambil dan tidak boleh didekatkan denganku... Jatuh cinta itu alay ya...
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Don't call it love!
  • • EUTANASIA •
  • Sampai Kita Jadian - Love on Repeat
  • Titik Yang Benar
  • (END) HAL-HAL MANIS YANG TAK PERLU KITA ULANGI
  • flashback~
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan