THE HORRIBLE SMILE (Complete)

THE HORRIBLE SMILE (Complete)

  • WpView
    Reads 562
  • WpVote
    Votes 340
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Aug 20, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Sekitar abad ke-16 sampai ke-17, merupakan abad dimana penyihir dan praktek ilmu hitam merajalela. Dari kematian tidak wajar, ritual, sampai pemujaan sesat selalu dikaitkan dengan ilmu sihir. Asteria adalah desa yang mempercayai adanya penyihir. The Horrible Smile, adalah sebutan untuk penyihir mematikan yang meneror desa mereka. Pembunuhan yang brutal, hilangnya bagian tubuh hingga organ dalam manusia, hal tersebut merupakan pemandangan menyeramkan sehari-hari di Asteria. Akankah teror pembunuhan ini terus berlanjut? Apakah identitas The Horrible Smile akan terungkap?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Grace Beyond the Spotlight!
  • Alister Franklin : Maldición
  • Dentingan Peony[END]
  • The Incredible Toba; Bound by Curse and Love
  • THE UNCHOSEN
  • The Witch's Liveliness✔ [2]
  • Fantalaqa [Antologi Cerita Fantasi]
  • [ TERBIT ] Lilin yang Tak Padam

Langit sore itu kelabu, seolah turut merasakan beban yang menghimpit dada Aira. Di balik jendela kaca lantai dua puluh empat, dunia tampak begitu jauh-tak peduli, tak ramah. Setiap hari, ejekan, hinaan, dan tatapan tajam menamparnya lebih keras dari kata-kata. Sekolah bukan lagi tempat belajar, tapi panggung penyiksaan batin. Aira menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke balkon apartemennya. Angin menerpa rambutnya yang panjang, seolah mengajak bicara. Ia menutup mata, melepaskan satu-satunya genggaman terakhir pada dunia ini. Dalam sekejap, tubuhnya melayang, jatuh, bebas... Gelap. Namun saat kesadarannya kembali, Aira tidak menemukan dirinya di pelataran apartemen. Ia terbangun di tempat asing-dalam sebuah ruangan batu tinggi, sempit, dengan jendela lengkung kecil yang menghadap hutan luas. Gaunnya bukan lagi seragam sekolah, melainkan kain panjang berenda seperti putri zaman dahulu. Di kejauhan, bunyi terompet dan gemuruh kuda menggema. Di mana aku? Satu hal yang pasti: ini bukan dunia yang ia kenal.

More details
WpActionLinkContent Guidelines