Bawana Swatanegara

Bawana Swatanegara

  • WpView
    Reads 144
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 1, 2024
Jauh ketika keruntuhan Kerajaan Mataram terjadi, berimbas pada kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya. Perselisihan terjadi, perebutan kekuasaan untuk menjadi kerajaan terhebat di tanah Nusantara membuat para raja berlomba-lomba, menghalalkan segala cara termasuk ilmu hitam. Begitu pula yang terjadi dengan Kerajaan Swatanegara dan Balapatih, di bawah kepemimpinan sang prabu, mereka berlomba-lomba untuk menjatuhkan. Perang astral terjadi setelah serangan darat Kerajaan Balapatih kalah telak dengan Swatanegara. Namun, tak disangka serangan astral itu justru berdampak besar, mencetak sejarah atas kekalahan Kerajaan Swatanegara. Di sisi lain, perang astral menyebabkan lonjakan energi, tipisnya pembatas ghaib di masa silam membuat manusia berbondong-bondong menuju kesesatan. Ketika itu pula mereka diambang kebodohan, terpengaruh dengan sihir, rela menumbalkan segalanya termasuk keluarga lantaran hidup yang sengsara. Lalu, apa dampak kejadian di masa silam untuk kehidupan mendatang?
All Rights Reserved
#125
tumbal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GARBHAPATI
  • Putri & Sang Pengawal
  • LOKAKALA
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • Transmigrasi Menjadi BL di Zaman Kerajaan : System
  • Lembah Schwarzthal
  • Prambanan Obsession (END)
  • Analogy, Two Different Form

Tinta emas menuliskan kemasyhuran Wilwatikta yang agung; puja-pujian bagi darah campuran pengkhianat dan pejuang yang bersatu, melahirkan raja-raja Jawa. Tak terhapus, namun namanya tercela sepanjang aksara pujangga yang menuliskannya: Jayanegara-yang kotor, tamak, rakus, dan cacat. Jayanegara, Yuwaraja yang hina, tiada sebaik-baiknya Maharaja Majapahit. Ia tumbal demi kemurnian tahta, kekuasaan fana yang ditebus leluhurnya dengan pertumpahan darah Mahisa Campaka dan perebutan singgasana yang berlumur durhaka. Dan kini, ramalan menggantung di ubun-ubunnya: wafatnya akan seiring dengan kecewanya Roro Sekarwuning, di bawah naungan Wintang Alit yang murka. Semesta mendengar tangisnya yang patah, mendengar amuknya yang terpendam dalam sunyi; dendam disemai, dan segala kutukan Kala menghantam jiwanya tanpa ampun. Seluruh jagat raya menolak kehadirannya, mengutuk setiap tapak yang ia tinggalkan di bumi. Namun Sanghyang Tunggal, dalam Krodha-Nya yang menggelegar, mengabulkan doa-doa Jayanegara yang terisak di antara dupa dan darah: terlahir kembali dalam perwujudan pria milenial abad ke-21, mengembara mencari cintanya yang hilang, memungut serpihan jiwa yang telah lama lenyap, di bawah bayang-bayang Kala Ratri yang tak pernah tidur. Indonesia, ranahasmoro. ©(2025-2026) [ Perlu diingat bahwa cerita ini merupakan karya fiksi dan fantasi. Beberapa elemen mungkin tidak sesuai dengan sejarah atau kenyataan. Hak cipta dilindungi. ]

More details
WpActionLinkContent Guidelines