ATMA TAK AMERTA (On Going)

ATMA TAK AMERTA (On Going)

  • WpView
    Reads 342
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 16, 2024
"Tuhan itu adil, tapi ini berat." Atma tak amerta yang berarti jiwa tak abadi. Jiwa akan pergi dari raga kapanpun, dan jika jiwa itu pergi maka jiwa yang masih terperangkap dalam raga lain tak lagi bisa menggapainya. Terombang-ambing oleh takdir adalah hal yang pasti didapati setiap manusia yang bernyawa. Dan ini Langit Arsael Biandra, jiwa yang penuh dengan kesakitan luka yang terdapat pada fisik dan batin. Jiwa yang menuntut bahagia namun tak kunjung diterima, hingga berakhir menjadi jiwa yang penuh amarah dan dendam. Tak ada yang menginginkan takdir seperti ini, namun pada dasarnya manusia lahir membawa takdirnya masing-masing. "Gue boleh berhenti?" "Berhenti apa, lang?" "Melepas lelah." Dunia adalah tempat yang mengerikan bagi jiwa yang sakit, namun siapa yang bertahan itulah yang terkuat. Dan inilah langit hadir bersama takdirnya.
All Rights Reserved
#34
leukemia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Arga ; Repihan Rasa TAMAT (sekuel Arga; Pusaran Sesal
  • Family Line
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Menjadi Skala ✓
  • ANGKASA || JJH [END✓]
  • (End) Athanasia Wagner 2 : Seven Lights
  • Jingga di Langit Biru

Seri kedua Arga ; pusaran sesal Tentang cinta yang salah menyapa, rindu pada yang telah pergi juga dendam yang tak seharusnya tumbuh. Setelah kematian Aksa. Arga menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa sakit akibat kehilangan dengan bekerja. Hingga pada satu titik dia kehilangan tujuan hidup kecuali membayar tagihan. Tak disangka dia bertemu lagi dengan ayahnya dan ingin membuktikan rumor yang pernah terjadi pada adiknya. "Ayah apa yang lebih memilih mengurusi anak wanita lain daripada darah daging sendiri? Kamu tak ubahnya lelaki egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Aku tak yakin kamu pantas disebut sebagai orang tua." "Aku tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut anak lelakiku yang terpelajar." Teringat dengan pesan adiknya untuk segera menikah, seorang wanita yang pernah bertemu saat di rumah sakit menyapanya. "Bukankah di dunia ini tak ada yang sempurna, begitu pula cinta." Kia menoleh ke Arga yang menatap dengan sorot sendu. Walau sudah mengenal hampir beberapa bulan, lelaki di sampingnya adalah sosok diyakini tengah menutupi luka. Dia bisa melihatnya, lewat bola mata, gurauan atau perkataan langsung seperti sekarang. "Cinta itu memang tak sempurna, oleh itu mereka merayakan ketidaksempurnaan sebagai wujud kebahagiaan dalam pernikahan. Karena sejatinya cinta itu saling melengkapi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines