NADA
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 8, 2026
"Setiap rahasia menyimpan luka. Setiap luka menyimpan cerita. " Ini adalah cerita dari sudut pandang Nada. Tentang apa yang ia lihat, ia rasakan, dan ia simpan sendirian. Nayyara Nada Nadhifa adalah siswi SMA yang terlihat baik-baik saja. Tubuhnya mungil, senyumnya manis, dan hidupnya nyaris tampak sempurna. Atlet bela diri, anak dari keluarga terpandang, dengan sahabat dan orang-orang yang mengelilinginya. Setidaknya, itu yang orang lain lihat. Kematian kakaknya meninggalkan luka yang tak sempat sembuh. Sebuah kepergian yang dianggap musibah, meski menyisakan banyak tanda tanya. Dk saat Nada memilih diam dan mencoba melupakan, Arga-kakak tingkat sekaligus sahabat almarhum kakaknya mulai mencurigai ada sesuatu yang janggal. Di tengah kehilangan, Nada terjebak di antara dua perasaan. Arka-anak OSIS yang ia kagumi dari jauh, dan Arga-sosok yang hadir tanpa banyak kata. Sementara sahabatnya, Falin-perlahan menjauh tanpa benar-benar pergi. Saat satu per satu kebenaran terungkap, Nada harus menghadapi hal-hal yang tak pernah ia minta. Penyakit, penyesalan, cinta yang terlambat, dan ingatan yang hilang. Nada adalah kisah tentang kehilangan yang tak selesai. Tentang bertahan terlalu lama, dan tentang seorang gadis yang akhirnya lelah mencoba tetap kuat. ~Buku ini ditulis dari sudut pandang Nada. Kisah yang sama aman diceritakan kembali dari sudut pandang Arga dalam buku berjudul "Arga".
All Rights Reserved
#879
teen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kita yang tak bisa bersama
  • luka alaska
  • Help Ghost
  • Cadar yang Pudar
  • LANGIT KITA TAK SAMA
  • Promise
  • Resital Sunyi (End)
  • Langit yang tak lagi Sama
  • Cinta Dalam Mekarnya Bunga
  • Innocent Dream

Kita yang Tak Bisa Bersama Hujan turun rintik-rintik, menambah kelam suasana malam itu. Bau tanah basah yang biasanya membawa kenyamanan, kini hanya terasa menyesakkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma hujan yang mengingatkan pada momen-momen indah yang kini hanya tinggal kenangan. Di sebuah taman kota, di bawah lampu temaram, mereka duduk berdua. Malam itu, tak ada lagi tawa yang biasa menggema di antara mereka. Tak ada obrolan ringan yang selalu menyatukan hati mereka. Hanya ada kesunyian yang menggantung, berat, seperti awan gelap yang tak kunjung pergi. "Ada yang ingin aku katakan," suara perempuan itu pecah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan yang semakin deras. Laki-laki itu menoleh. Senyum kecil terukir di wajahnya, namun tak lebih dari sekadar kebiasaan. Ia mengira ini hanya perbincangan biasa, seperti dua tahun terakhir yang mereka habiskan bersama. Dua tahun yang dipenuhi kebahagiaan sederhana-tertawa bersama, saling berbagi mimpi, menciptakan dunia kecil di mana mereka merasa aman dari kenyataan. Namun, malam ini, perempuan itu tidak tersenyum. Tatapannya kosong, bibirnya bergetar, dan tangannya menggenggam ujung rok dengan erat, seolah menahan sesuatu yang sangat berat di dadanya. "Aku akan dilamar besok..." ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam hujan. Dunia laki-laki itu seakan berhenti. Detak jantungnya terasa menghilang, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Laki-laki itu menatapnya lama, mencoba mengukir setiap detail wajahnya di ingatan, perempuan yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, perempuan yang selalu membuatnya merasa tenang, yang selalu membuatnya merasa rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines