Crita Kita di Pesantren

Crita Kita di Pesantren

  • WpView
    Reads 164
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 25, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Serpihan cerita seorang santriwati bernama Amiq di sebuah Pondok Pesantren bernama BUNYANUN MARSHUSH bersama 37 (+2) teman-temanya yang selalu ada di setiap sudut pandangnya. Awal dari tangisan yang terus membasahi pipi karena rindu yang tak tertahankan. Namun semuanya seketika hilang karena banyak tawa yang selalu terselipkan di rasa rindu itu. Hari demi hari dilaui bersama. Senang sedih juga dirasakan bersama. Hingga tiba pada saatnya harus berpisah. Mau tau keseruan lainya Amiq di Pondok? Baca selengkapnya di "Crita Kita di Pesantren"
All Rights Reserved
#176
santri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Putih (Catatan Walisantri & Santriwati Alumni Pondok Pesantren Gontor
  • Presma Pesantren
  • Aurakham (Aurora & Arkham) [End]
  • Gus Your Mine!
  • zaujatinya gus azam (END)
  • Nostalgia Abi & Zahra
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]
  • Pertarungan di Sepertiga Malam.
  • Risak & Rusuk [Revisi]

Keluarga dengan 7 anak yang berbeda karakter. Dari si sulung yang tinggi bak tiang listrik, tak banyak bicara, tapi suka menganggap dirinya keren, anak kedua yang pandai kali bicara, banyak kawan, semua sudut kota sudah ia jelajahi, ketiga yang paling bandel, banyak idenya, tapi paling bersih dan rapi dari semua saudara perempuannya, keempat yang paling pendiam seribu bahasa, bisa bertahan di kamar seorang diri selama satu pekan bermodal handphonenya, si kelima, si ketua kelas tiap tahun, paling sat set, tanggap dengan banyak peluang mencari uang dari sudut pasar manapun, si keenam halus bahasa jawanya, sulit senyum lemahnya, akhir-akhir ini suka sekali selfie dengan ponsel barunya, paling bontot, anak kesayangan ibu, karena ia lahir dengan pengasuhan ibu, apakah bapak sudah tiada? masih. Tapi, hanya ia, satu-satunya anak di keluarga kami yang belum pernah keliling kota bersepeda ria dengan bapak, dan satu-satunya anak di keluarga kami yang tidak pernah absen sholat shubuh jamaah di masjid, semenjak ia bisa menggunakan sarung sendiri Buku ini, kumpulan kisah dari alumni santriwati Pondok Pesantren di Jawa Timur. Pondok Modern Darussalam Gontor. Pondok Pesantren yang telah berdiri sekian tahun. Kami bukan keluarga dengan darah biru, keluarga biasa (bahkan terbilang miskin dalam status kelurahan) dengan bapak pensiunan wiraswasta usaha sewa buku, ibu dengan dagangan bubur bayi dan ayam tiap pagi. Bapak selalu mengulang nasihatnya, tak meminta kami menjadi kaya raya, bapak hanya meminta kami selalu menjaga persaudaraan, senantiasa di jalan pendidikan, bagaimanapun caranya, jangan jauh dari ilmu. Ketika sampai di pencarianmu, semoga kamu berhenti sejenak, ada banyak kisah mengharu biru disini, bukan membuatmu menangis. Tapi, mengajakmu bahwa, banyak kebaikan dan keajaiban manusia di alam raya. Ayo, kita rayakan bersama

More details
WpActionLinkContent Guidelines