The Six Guardian school : Divide and Conquer

The Six Guardian school : Divide and Conquer

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 25, 2024
Di luar kedai, suasana semakin tegang. Adi tampak semakin marah, dan Arga, yang telah mencoba menahan diri sejauh mungkin, akhirnya kehilangan kesabaran. "Sudah cukup! Aku sudah muak dengan perilakumu!" ucapnya dengan suara lantang. Tidak ada kata-kata lagi. Adi menyerang Arga dengan pukulan, dan pertarungan pun pecah di jalanan depan kedai. Penduduk sekitar yang menyaksikan kejadian itu terkejut dan panik, beberapa di antaranya berteriak meminta bantuan atau menelpon polisi. Arga dan Adi terlibat dalam baku hantam yang serius, saling bertukar pukulan dengan penuh amarah. Suasana yang tadinya ramai dan menyenangkan di kedai kopi kini menjadi kacau balau dan mencekam, dengan penduduk sekitar berusaha menenangkan keadaan atau melarikan diri dari tempat itu.
All Rights Reserved
#8
journeyoflove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stay (Away)
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • "Algantara Delano Arlaska"
  • About You And Me
  • Bad Boy Vs Cool Girl [END]
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Gadis Pukul [COMPLETE]
  • Lo, Tunangan Gue !!! [Sudah Terbit]
  • OOSHANKA

⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️ "Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo." "Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya. "Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly. "Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi. "Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly. "Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut. "Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!" Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata. Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly. Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b

More details
WpActionLinkContent Guidelines