apakah ini karma, ayah?

apakah ini karma, ayah?

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 30, 2024
"anakmu ini sudah rusak ayah! Ini karena ayah, aku begini atas kesalahan ayah. Maaf kan aku ayah, tapi anakmu ini kecewa padamu" "...." Air mataku turun mengalir. Tidak ada yang tau betapa sakitnya hatiku saat ini. Sudah bertahun-tahun aku harus menanggung karma. Aku tidak sanggup, aku sadar aku telah melukai hati ayahku. Aku tau setiap kalimat yang aku katakan akan menusuk perasaannya. Tapi apakah aku salah menyuarakan perasaan kecewa ini?? "Maafkan bunda, nak" Bunda memelukku. Air mata yang terus mengalir membasahi kemeja ku. " ini salah bunda. Seharusnya bunda bisa melupakan semuanya, seharusnya bunda bisa memaafkan ayah. Sehingga semua ini tidak akan terjadi padamu. Maafkan bunda,, anak bunda. Maafkan bunda. Semua salah bunda."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Constellations From The Room
  • My Name is SYANARA (COMPLETED)
  • F A K E ? [End]
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Five wishes! [SM Family]
  • Gadiza
  • Perempuan Dengan Segala Masalahnya (End)
  • Sembunyi Dalam Senyum [COMPLETED]
  • HEARTBREAKING (On Going)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines