Hidup Gendis tidak selalu manis seperti arti namanya. Setiap saat ada saja yang membuat jantungnya berdenyut sakit, telapak tangan dingin keringatan, merinding, bahkan mual. Gendis ingin berubah, mampu mengatasi sindrom gangguan kecemasannya agar ia tidak selalu bergantung kepada ibu. Ia tidak ingin terus-menerus memikirkan kejahilan mas kedua. Gendis juga ingin lebih dekat dengan bapak dan mas pertama. Gendis mau seperti orang lain, bebas mengobrol santai dengan banyak teman dan pergi ke tempat baru tanpa merasa takut dan juga cemas. Namun, apakah memang harus seperti itu? Apa Gendis harus meniru orang lain dan merubah dirinya agar ia bisa bahagia?
More details