DIA, AKSA

DIA, AKSA

  • WpView
    Reads 197
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 6, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Ketika kamu menggenggam sesuatu terlalu erat, maka yang kamu genggam bisa mati secara perlahan karena merasa sesak. Aku hanyalah seorang gadis yang selalu takut pada perpisahan, takut jika Tuhan tidak mengijinkan kita untuk terus bersama. Seperti lautan di Selat Gibraltar. Sayangnya, ketakutan itu malah menjadi bencana besar untukku. Satu hal yang sangat aku benci, justru menjadi sebuah realita yang menyayat hati secara nyata. -Safir Bulan Amanda
All Rights Reserved
#7
restuorangtua
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • BULAN [END]
  • Antara Bulan dan Bintang
  • About You (Tahap Revisi)
  • Bulan
  • PACARNYA BOO (Sudah Terbit)
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines