Gadis kecil kesayangan Mama, Papa.
Gadis manja itu, gadis yang diselimuti ruang kehangatan setiap waktunya. Dia tumbuh dengan cerdas, baik, dan sangat hangat kepada semua orang.
Namun sayang, kehangatan itu suatu saat juga pergi ditelan dusta. Gadis manja itu mulai berdiri sendiri saat ini. Ia akan berjalan menyusuri ruang dan waktu bersama kesepiannya. Entah dengan siapa, entah bagaimana, dan entah apa yang akan ditemui dan dilakukannya di kemudian hari.
Cinta?
Cinta tulus yang ia mimpikan, cinta suci yang ia harapkan. Tetap berjalan di langkah yang benar adalah prinsipnya. Selalu memegang teguh ajaran agama yang ia pegang. Percaya jika Tuhan dia akan selalu melindungi dan menyayanginya.
Namun naas,
Cerita buruk itu akhirnya terjadi di suatu hari. Namun di satu sisi. Cinta oleh manusia tidak ia dapatkan. Semua naas, sangat kacau. Ia telah rusak, ia tidak lagi menjadi gadis manja itu, gadis baik itu telah pergi.
Hingga suatu hari,
Ia dipertemukan dengan seseorang yang betul-betul datang disaat ia sedang bimbang mengenai kehidupan. Gadis itu sangat mencintai TuhanNya. Namun disisi lain, orang yang sedang bersama ia juga memegang prinsip TuhanNya. Tuhan mereka sama, namun berbeda. Kesenjangan ini dimulai....
"Andriana Nadien Thierry Putri".
"Nathaniel Pradipta Wiratama".
Senjang..
[ CERITA DIPRIVASI ]
Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta.
Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya.
Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya.
Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis.
Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya?
Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita.
Apakah menakutkan?
Tidak.
Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia.
Bukankah manusia itu makhluk paling serakah?
Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta.
Maka, beginilah ritmenya;
Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki?
Selamat Membaca!
Salam,
Curious_
Ditulis-Diakhiri: Maret 2017