Seburam Langit

Seburam Langit

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 1, 2024
Langit itu indah namun ketika awan gelap menampung tetesan air dan kristal es yang siap di hujan kan ke tanah bumi hijau penuh makhluk hidup dengan bentuk yang berbeda, masing-masing menikmati dengan suasana yang berbeda sesuai presepsi yang dirasakan oleh perasaan mereka. Jovan Bartis Rowbev pemilik nama dari seorang pemuda yang tengah bersandar pada tembok gang yang jarang dilewati orang merasakan kibasan air hujan walaupun ia sudah berteduh di atap yang tak begitu lebar untuk badan jangkungnya. "Sial, waktu sudah hampir larut, hp lowbat segala," Matanya menatap guyuran air yang seperti tak berniat untuk berhenti walaupun dirinya berulang kali menyuruh anak air yang berjumlah ratusan bahkan ribuan itu untuk berhenti. Suara menenangkan gemercik air mengalihkan pikiran yang sedari tadi berisik memenuhi kepala. "Harusnya kalian membiarkan ku untuk mencari tempat berteduh, biar aku bisa menikmati hiburan dari mu, Langit." Monolognya yang disampaikan untuk langit, mata sayunya yang tak bisa dipahami manusia lain. tapi karna hadirnya hujan seakan memberitahu bahwa dirinya tidak sendiri. Langit dengan guyuran air yang masih setia menemaninya membuat pemuda itu maju selangkah, sengaja menerima guyuran air dan setetes air turun dengan lancarnya dari mata sayu itu menyatu dengan tetesan air sedingin kristal yang dibawa oleh Langit
All Rights Reserved
#144
tak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Space Between Us
  • LUNAR VEIL: The Hidden Path
  • The Youngest -Gong Yuanzhi
  • Supernatural Rebirth Genius Girl Diviner [Completed]
  • Kelana Langit Semesta
  • Cahaya Gemintang (CH!Indonesia)
  • BOOK I : Soul Fragment
  • HEY!! MR. COOL?! [END]

Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines