Puisi 1000 Hari

Puisi 1000 Hari

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 18, 2024
WpInfo
Poetry
Dalam buku ini, jalinan kata-kata menjadi puisi yang dilahirkan oleh seperangkat organ tubuh, yang tak hanya terdiri dari perasaan, tetapi juga dari akal yang mengalir melalui setiap jengkal halaman. Sebuah karya yang hidup dan bernapas, sebuah projek yang tak berkesudahan karena sang penulis masih menghirup udara ini. Dan masih dengan penulisnya. Tidaklah perlu memasang harapan yang tinggi pada lembaran-lembaran ini, namun izinkanlah satu hal untuk mengendap dalam benak kalian. "Kita kadang selalu berkorban untuk menyaksikan sunset di pagi hari dan sunrise di sore hari " Dengan kalimat-kalimat puitis ini, buku ini menawarkan lebih dari sekadar kata-kata. Tapi sebuah pertarungan hebat dengan batin dan kontradiksi kuat yang tidak perlu diperdebatkan. Cukup dengan ditertawakan. SEDERHANA, bukan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • CATATAN SEBUAH HATI : Puisi Cinta, Luka, dan Kerinduan
  • KLINIK PUISI (Semoga Lekas Kambuh)
  • Ungkapan Rasa
  • You're Here, But Not For Me
  • Coretan Literasi Tanpa Dedikasi

[HIATUS] Indira tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan tubuh yang lemah. Tapi hari-harinya kini dipenuhi detak mesin, jarum-jarum tajam, dan dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya tidak pernah benar-benar sembuh, tapi pikirannya terus mencoba kuat. Karena di sisi lain, ada Ella. Seseorang yang selalu ada di sana, dengan sabar, lembut, dan tak pernah menyerah. Ella yang datang dengan susu kotak saat dunia rasanya hambar, yang menemani sesi cuci darah meski hanya bisa duduk diam sambil menggenggam ujung jaket Indira. Namun semakin hari, semakin terasa: ada batas yang tak bisa lagi mereka pura-pura tak lihat. Indira mulai menjauh, bukan karena tidak cinta, tapi karena takut cinta itu perlahan berubah jadi beban. Ia merasa tak lagi layak untuk dicintai, apalagi saat tubuhnya sendiri terkadang tak sanggup berdiri lebih lama dari lima belas menit. Sementara Ella terus bertanya; mengapa kak Indira menarik diri? Apa salah jika ia ingin tetap di samping seseorang yang ia pilih untuk ia perjuangkan? Di antara rasa sayang dan amarah yang terpendam, keduanya mulai kehilangan arah. Mereka tak pernah bertengkar, tapi diam-diam saling menyimpan luka. Sampai pada akhirnya, sebuah sore yang sunyi di stasiun kecil menjadi saksi bahwa: keduanya duduk berdampingan, tanpa banyak kata. Hanya ada satu kalimat dari Ella, pelan namun penuh makna, "Ayo menepi dulu, sebentar saja." Bukan untuk pergi, bukan untuk berakhir. Tapi untuk istirahat dari semua hal yang memaksa mereka menjadi kuat setiap waktu. Namun yang tidak mereka tahu adalah... kadang, yang kita anggap hanya sebentar bisa jadi jeda terakhir sebelum semuanya berubah. "Aku ngerasa kayak mayat hidup, El..." "Ada aku, Ada Ella... Semuanya akan baik-baik aja, kak. Trust me..." Start ; Fri, May 16, 2025 End ; - By. awmawindh |; Seraphine.daine

More details
WpActionLinkContent Guidelines