Puisi 1000 Hari

Puisi 1000 Hari

  • WpView
    Reads 71
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 18, 2024
Dalam buku ini, jalinan kata-kata menjadi puisi yang dilahirkan oleh seperangkat organ tubuh, yang tak hanya terdiri dari perasaan, tetapi juga dari akal yang mengalir melalui setiap jengkal halaman. Sebuah karya yang hidup dan bernapas, sebuah projek yang tak berkesudahan karena sang penulis masih menghirup udara ini. Dan masih dengan penulisnya. Tidaklah perlu memasang harapan yang tinggi pada lembaran-lembaran ini, namun izinkanlah satu hal untuk mengendap dalam benak kalian. "Kita kadang selalu berkorban untuk menyaksikan sunset di pagi hari dan sunrise di sore hari " Dengan kalimat-kalimat puitis ini, buku ini menawarkan lebih dari sekadar kata-kata. Tapi sebuah pertarungan hebat dengan batin dan kontradiksi kuat yang tidak perlu diperdebatkan. Cukup dengan ditertawakan. SEDERHANA, bukan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • KLINIK PUISI (Semoga Lekas Kambuh)
  • Ungkapan Rasa
  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Coretan Literasi Tanpa Dedikasi

Dia ada, tapi tidak seharusnya. "Kamu nggak pernah percaya sama sesuatu?" Tepian itu kini kugambar perlahan. Sebelah sini: manusia yang nyata, dunia yang nyata. Sebelah sana: senyummu yang dulu kusangka nyata... "Siapa lagi yang harus kupercaya!!" Sentuhan, hembusan, tatapan, pergerakan, rasa cinta, rasa sayang, semua terasa begitu nyata. "Aku nggak bakal pergi, aku bakal selalu ada buat kamu." Semua itu membuatku terjatuh, terlena, rasa ingin terus menetap. Namun, bayangmu, menghilang perlahan, bagai serpihan pasir. "kenapa... kamu- arrgghh!! Harusnya kamu pergi! hilang!" Kamu berbohong, kamu meninggalkanku. Kamu yang memaksaku percaya pada cinta, tapi kamu juga yang menghancurkan kepercayaan itu. Dan Aku, kembali sendiri. "Mas? Kenapa teriak-teriak?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines