Puisi 1000 Hari

Puisi 1000 Hari

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 18, 2024
WpInfo
Poetry
Dalam buku ini, jalinan kata-kata menjadi puisi yang dilahirkan oleh seperangkat organ tubuh, yang tak hanya terdiri dari perasaan, tetapi juga dari akal yang mengalir melalui setiap jengkal halaman. Sebuah karya yang hidup dan bernapas, sebuah projek yang tak berkesudahan karena sang penulis masih menghirup udara ini. Dan masih dengan penulisnya. Tidaklah perlu memasang harapan yang tinggi pada lembaran-lembaran ini, namun izinkanlah satu hal untuk mengendap dalam benak kalian. "Kita kadang selalu berkorban untuk menyaksikan sunset di pagi hari dan sunrise di sore hari " Dengan kalimat-kalimat puitis ini, buku ini menawarkan lebih dari sekadar kata-kata. Tapi sebuah pertarungan hebat dengan batin dan kontradiksi kuat yang tidak perlu diperdebatkan. Cukup dengan ditertawakan. SEDERHANA, bukan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • KLINIK PUISI (Semoga Lekas Kambuh)
  • Coretan Literasi Tanpa Dedikasi
  • Lembut Seperti Doa
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Ungkapan Rasa

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines