"Sebelum kita pulang, Sayang, ijinkan Bapak untuk meminta maaf."
"Mengapa harus minta maaf, Bapak?"
"Maaf untuk segala impian-impianmu yang tak bisa Bapak wujudkan. Seperti ini adanya hidup bersama Bapak, jauh melintang dari bahagia, dekat bergesekan dengan sengsara. Bapak hidup jadi orang tak berguna, sampah bumi, kelak kau tak boleh begitu."
Anak tujuh tahun bermata bulat indah nan teduh itu, dengan bulu mata lentik menghias cantik. Tatapannya lembut, dalam, dan tenang. Ia memang tak paham kalimat Bapak, tetapi ikatan batin seorang bapak-anak terkoneksi begitu kuatnya, menerima getaran sedih yang memilukan. Maka, sebagaimana yang biasa Bapak lakukan di kala ia sedih dan menangis, Bapak memeluknya lalu menggendongnya untuk diajak keliling kampung. Sirna sudah dengan segera kesedihan seorang anak kecil cengeng itu. Namun, sekarang ia hanya bisa memeluk Bapak, tak sanggup menggendong sambil dibawa lari-lari. "Asal Bapak tahu, Sri ingin memanggil superhero di tipi itu, mau minta kekuatan, biar Sri bisa gendong Bapak dan ajak keliling-keliling," serunya sambil menepuk bahu lelaki hebatnya.
Tous Droits Réservés