Ramai Rumah Kami

Ramai Rumah Kami

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 13, 2024
WpInfo
Non-Fiction
"Sebelum kita pulang, Sayang, ijinkan Bapak untuk meminta maaf." "Mengapa harus minta maaf, Bapak?" "Maaf untuk segala impian-impianmu yang tak bisa Bapak wujudkan. Seperti ini adanya hidup bersama Bapak, jauh melintang dari bahagia, dekat bergesekan dengan sengsara. Bapak hidup jadi orang tak berguna, sampah bumi, kelak kau tak boleh begitu." Anak tujuh tahun bermata bulat indah nan teduh itu, dengan bulu mata lentik menghias cantik. Tatapannya lembut, dalam, dan tenang. Ia memang tak paham kalimat Bapak, tetapi ikatan batin seorang bapak-anak terkoneksi begitu kuatnya, menerima getaran sedih yang memilukan. Maka, sebagaimana yang biasa Bapak lakukan di kala ia sedih dan menangis, Bapak memeluknya lalu menggendongnya untuk diajak keliling kampung. Sirna sudah dengan segera kesedihan seorang anak kecil cengeng itu. Namun, sekarang ia hanya bisa memeluk Bapak, tak sanggup menggendong sambil dibawa lari-lari. "Asal Bapak tahu, Sri ingin memanggil superhero di tipi itu, mau minta kekuatan, biar Sri bisa gendong Bapak dan ajak keliling-keliling," serunya sambil menepuk bahu lelaki hebatnya.
All Rights Reserved
#461
hidup
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • Hug Me (Mom Dad)
  • MEISYA
  • JAM 3 SORE
  • Aksara Lingga
  • Langit Kelabu Milik Ara
  • May am I ???
  • Males, ribet.
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines