DANCE WITH ME

DANCE WITH ME

  • WpView
    Reads 147
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 5, 2024
Ferrel Wijaya mahessa anak yang memiliki bakat bermain piano. la selalu tampil mencolok dan mendominasi setiap perlombaan. bahkan di umur yang sangat muda, sudah menjadi sosok idola bagi anak seumurannya. Namun menjadi idola tidak selamannya menyenangkan, di balik permainannya yang selalu mendominasi. Ferrel selalu dapat perlakuan keras dari sang ayah, sebab ayahnya ingin ia bisa melebihi dirinya dan melanjutkan nama besar yang sudah di buat oleh ayahnya. Semuanya berubah ketika sang ayah meninggal dunia, ia mengalami tekanan mental di tengah penampilannya. Dirinya juga trauma dan membuatnya tidak bisa mendengar suara denting piano walaupun secara fisik pendengarannya baik-baik saja. 5 tahun berlalu. Ferrel tidak lagi menyentuh piano, kehidupan sehari hari nya cukup monoton. Lingkungan sekolahnya tidak ada yang mengetahui tentang kehidupan Farrel, adanya kejadian itu membuatnya trauma dan memutuskan untuk mengurung diri sendiri di dalam halusinasi yang terus menghantuinya. Cukup lama dia mengurung diri sampai akhirnya dia bertemu dengan gadis ceria, yang secara tidak langsung akan mengubah kehidupan monotonnya menjadi berwarna.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DUNIA FLORA
  • Janji, Ambisi & Dendam [ FREFIO & FRESHA ]
  • Mencari Jati diri [FRESHA]
  • LOOK AT ME
  • Bukan Sekedar Kagum
  • H A T E(END)
  • FREYA: Menemukan Kedamaian
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • Berandalan [END]

Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotinya. " Ra... Tolong ngerti," suara Fabian tercekat. " Gue selalu ngerti Fabian!" bentaknya tak sadar, isakannya semakin terdengar jelas, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa sedih. "Tapi siapa yang peduli perasaan gue?" suara gadis itu melemah. " Siapa yang peduli mental gue hancur? Siapa yang peduli kalo gue cuma orang yang haus kasih sayang? Siapa?!" " Di sini ada gue yang sayang sama Lo," Fabian meraih tangan gadis itu namun flora dengan cepat langsung menepisnya. Air mata Fabian mengalir membasahi pipinya. " Kita bakal hidup bahagia..."satu isakan lolos dari mulut Fabian, namun ia langsung menahannya. Flora menggeleng pelan, tatapannya semakin kosong. " Kisah kita gak bakalan berakhir happy end Fabian..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines