We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
BEAUTY PRIVILEGE (?)

BEAUTY PRIVILEGE (?)

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 5, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"AKU MENGINGINKANMU!! KAMU MILIKKU, VERONICA VERANNA!!! JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKMU, ORANG LAIN JUGA TIDAK AKAN-!!!" dengan nafas yang berat, pria itu mencengkram pergelangan tangan Anna dengan kuat. Rasa panas akibat cengkraman itu menjalar di pergelangan tangan nya. Rasa sakit nya sudah tidak bisa diidentifikasikan lagi, rasanya benar benar seperti hampir patah seolah ditekan dengan mesin. Sorot mata pria itu tajam, kilatan cahaya keluar dari sorot matanya. Menatap penuh dendam dan obsesi kepada Anna. Api cemburu dan posesif menyebar di seluruh tubuh pria itu. Tubuhnya dengan kuat terus menekan tubuh Anna ke lantai, tidak membiarkan Anna bergerak sedikitpun. ##### "Keberuntungan selalu datang pada gadis cantik? I don't think so." -Anna
All Rights Reserved
#872
thriller
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Diary Of Rain [END]
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Assassin Follower
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • Antara
  • Jane [OPEN PO]
  • Arunicalla [TAMAT DI KARYAKARSA]
  • Beyond The Darkness
  • BRAVEHEART (Tamat)
  • DIRGANTARA

Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas. "Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang. Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang. "Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka. Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya. "Aku benci kau Lano..." Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan. "Maaf..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines