Light Behind the Rain

Light Behind the Rain

  • WpView
    Lectures 83
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 8
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., juil. 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Menjadi seorang albino tidaklah mudah untuk seorang gadis SMA yang tidak pernah memiliki teman. Ia sadar bahwa untuk dapat diterima, ia harus berubah bahkan jika bukan menjadi dirinya. Namun, pandangannya perlahan berubah ketika ia mulai mengerti perkataan papanya saat itu, bahwa dirinya berarti terang. Ia semakin menyadari bahwa terang itu ada di balik hujan berkat seseorang. Seseorang yang tidak pernah terpikirkan akan ia cintai. ∆ Status ON GOING ∆ ∆ Story by Candeses 2024 ∆ ∆ Cover did not belong to me ∆
Tous Droits Réservés
#172
light
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Memories in Moon
  • GARAYA : Pair Of Lose Colors ( SEGERA TERBIT)
  • RAJAWALI
  • Lumière & Kaifer: A Tale of Us
  • DRABIA [END]
  • SEMESTA
  • HUJAN dan RAIN
  • DAVARA
  • I Hate Rain
  • PETRICHOR [Lengkap]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu