Semester empat, kampus yang sepi selama pandemi kembali ramai dengan suara mahasiswa. Di antara mereka, ada seorang pemuda yang selama ini terkenal sebagai sosok yang jarang bergaul dengan teman-teman perempuan di kelasnya. Namun, sejak perkuliahan offline dimulai, semua terkejut melihatnya tiba-tiba akrab dengan seorang gadis. Gadis itu bukanlah wajah baru; dia adalah teman sekelas yang pernah dekat dengannya melalui WhatsApp selama masa kuliah online.
Kisah mereka bukanlah romansa yang biasa. Tidak ada tatapan mesra atau janji manis yang terucap di koridor kampus. Yang ada hanyalah pertukaran pesan singkat yang penuh tanda tanya, pertemuan-pertemuan kebetulan yang sering terjadi, dan perasaan-perasaan yang tak terdefinisi dengan jelas. Apakah ini sekadar pertemanan, atau ada benih-benih cinta yang mulai bersemi?
Semakin hari, semakin banyak teka-teki yang muncul. Si pemuda yang dulu dingin terhadap perempuan, kini terlihat sering tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Si gadis, yang dulu hanya bayangan di layar, kini menjadi sosok nyata yang tak bisa diabaikan. Namun, semakin mereka dekat, semakin rumit pula perasaan yang mereka hadapi. Apakah mereka berdua siap untuk mengungkap misteri perasaan yang terjalin di antara mereka?
Novel ini akan membawa pembaca menyelami kedalaman hubungan yang tak terduga, mengeksplorasi dinamika cinta yang membingungkan, dan mempertanyakan batas antara persahabatan dan asmara. Setiap bab akan mengungkap lapis demi lapis perasaan dan pikiran kedua tokoh utama, mengajak pembaca untuk merasakan setiap detak jantung dan keraguan yang mereka alami.
Liora dan Levian dipertemukan secara tak sengaja di kampus sebuah pertemuan sederhana yang tumbuh menjadi cinta tak terduga. Namun ketika Levian menerima beasiswa ke luar negeri, hubungan mereka diuji oleh jarak, waktu, dan ketidakpastian.
Selama empat tahun menjalani LDR, mereka bertahan dengan harapan dan janji. Tapi tak ada yang bisa memprediksi arah takdir terutama ketika masa lalu Aksan kembali menghantui dalam wujud rahasia yang tak pernah ia ceritakan. Sementara itu, hadirnya Ray, pria asing yang penuh teka-teki, mulai mengaburkan batas antara rasa nyaman dan kesetiaan.
Dibalut dengan rindu yang membeku, penantian yang menggantung, dan cinta yang nyaris padam, kisah ini membawa pembaca pada lika-liku emosi, kebohongan, dan pengkhianatan... hingga semua berpuncak pada sebuah pelaminan yang mungkin bukan tempat mereka berdua berdiri bersama.
Karena kadang, yang paling kita cinta... justru yang paling menyakitkan. Tapi juga, yang paling layak diperjuangkan.