Nouva Shumi suka bau darah, aromanya segar dan kuat, membuatnya bergairah dan gila secara bersamaan. Entah sudah berapa banyak tubuh tumbang berjatuhan, diujung belatinya, atau ditebasan pedang katananya, atau dari letusan revolvernya, atau bahkan hanya dari ujung jari jemarinya yang cantik. Ia terlahir sebagai putri mafia paling gelap dan berkuasa. Hidup hanya memberinya dua pilihan, membunuh atau dibunuh.
Mungkin saja matahari enggan menyinari bumi, bila tak ada Noura Elizabeth di dalamnya. Gadis itu bak sekuntum bunga dandelion di tengah padang rumput. Semua mata pasti menangkap keindahannya, menikmatinya dari kejauhan. Namun tak satupun dari mereka yang peduli, bahwa sekuntum dandelion itu begitu rapuh, bahkan untuk menahan hembusan angin padang rumput sekalipun. Hidup mengizinkannya untuk tinggal lebih lama, mentakdirkannya menjadi pewaris tunggal kerajaan, namun nyatanya Ia tak pernah bahagia.
"Ada yang salah dengan takdir," begitu yang dibisikan Mikael pada Lilith, untuk pertama kalinya dua musuh bebuyutan ini sepakat tentang satu hal. "Aku yakin, alat pengacak takdir itu sudah terlalu tua, sudah waktunya semesta menggantinya." Namun tak semudah itu, Mikael tau Yang Maha Kuasa tak mau merubah apapun. Semua yang telah berjalan sesuai tatanan tak boleh dirubah. Tapi Mikael harus melakukan sesuatu, meski harus melanggar sumpah kesetiaannya sekalipun.
Malam semakin larut, namun tidur menjadi hal yang mustahil bagi Mael. Setiap kali dia memejamkan mata, dunia di sekitarnya seakan berubah. Suara gemerisik dari sudut-sudut ruangan, desahan napas yang tidak berasal dari dirinya, dan bayangan-bayangan yang menari di balik tirai gelap kamarnya membuat dadanya terasa semakin sesak.
Saat dia berbalik untuk kesekian kalinya di tempat tidur, suara itu kembali muncul-seperti bisikan yang tertiup dari balik dinding, rendah dan penuh kekuatan. "Mael... Kau tidak bisa lari..."
Dia terlonjak bangun, matanya terbuka lebar, jantungnya berdetak keras. Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi. Dia duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam dan berusaha meredakan gemuruh di dadanya. Bisikan itu, suara yang sama dengan yang ia dengar di perpustakaan, menghantuinya lagi.
Pikiran Mael kacau. Apakah ini nyata? Ataukah dia sudah kehilangan akal? Sejak mimpi itu, dunianya berubah menjadi labirin ketakutan yang tak bisa dia pahami.
Mata Mael bergerak ke sudut kamar, ke arah bayangan yang terasa lebih pekat daripada biasanya. Di sana, samar-samar, dia melihat sesuatu. Sesosok tubuh samar yang menyatu dengan kegelapan. Tubuh itu bergerak perlahan, semakin dekat, seperti makhluk yang merayap dari kedalaman mimpi buruknya.
"Siapa kau?" Mael berbisik, meskipun dia tahu tak ada jawaban.