Nadira dan Takdirnya

Nadira dan Takdirnya

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jun 10, 2024
"Kupikir aku sudah hijrah ternyata aku hanya bertopeng, postinganku perihal agama, bahkan aku bijak dalam merangkai kata, tapi ilmuku masih minim, amalanku sangat sedikit, bahkan hatiku berpenyakit." Huhh.. Lagi dan lagi. Hanya bisa mengeluh, meratapi, dan sedikit bersyukur. Pandai dalam berdakwah di hadapan teman, tapi tidak pandai berdakwah pada diri sendiri. Eh, koreksi. Bukan pandai berdakwah, tapi pandai 'ngomong'. Masih suka merasa diri ini lebih paham dibanding orang lain. Takut untuk membuka dan menyadari bahwa diri ini masih begitu awam. Mengapa demikian?. Padahal jelas sekali bahwa ilmu yang di raih belum ada apa-apanya. Bahkan jauh dari kata masih awam, alias masih 0. Mungkin kalau awam di nomor 20. Nah, klo jauh dari kata masih awam itu -99°C, sangat beku. Jika sudah seperti ini?, mengapa masih berdiam diri dengan diselimuti rasa sok paling tau dengan ilmu?. Huft... Katanya sih masih proses belajar, tapi ngga ada pergerakan sama sekali. Cuman omong kosong yang rasanya sulit untuk ditampik bahwa diri ini masihh saja stuck dijalan itu itu saja. Katanya sih ingin jadi perempuan karir yang dijejeri dengan gelar santri terbaik dan dibumbui hafidzah 30 juz. Ya.. ya.. yaa.. Lagi dan lagi, itu hanya ucapan dan hayalan semata. Entahlah, sampai kapan hidup dalam angan-angan gelar terbaik seperti itu. Rasanya, hanya ingin merubah detik menjadi menit, butuh effort dan perjuangan yang harus selalu di Istiqomahkan. Dan, satu lagi. Kadang tuh masih ngga sadar kalau diri ini masih begitu awam dengan bau-bau ilmu agama. Tapi, masih saja menampik bahwa sebenarnya kita itu tahu tentang ilmu itu. Sekadar garis besar saja, rasanya sakit jika melihat kalau diri ini masih dijalan yang sama. Lantas, sampai kapan kita berdiam diri tanpa mengambil alih jalan?. Padahal waktu terus berputar. Dan... Kita tidak tau, kapan ajal datang?. Apa yang harus kita persiapkan jika waktu itu akan datang sebelum kita kembali mengharap ridho-Nya?. 10/Jun/'24
All Rights Reserved
#156
reminder
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Love My Enemy
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Gus Alfathar (SUDAH TERBIT)
  • When Two Hearts Collide
  • My Ustadz My Crush [SELESAI]
  • Caliorate
  • Different [END]
  • Tasawuf Cinta

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines