(So Junghwan, Kawai Ruka, Kim Doyoung AU)
Jika seseorang bertanya padaku, perihal, "Apa hantu benar-benar ada?" Tanpa ragu, aku akan menjawab dengan, "Ada."
Karena nyatanya, mereka betul-betul ada, tercipta di dunia, hidup berdampingan dengan kita. Tapi, kalau tak mau percaya, tak apa-apa. Sudah banyak yang bilang bahwa aku membual, bahkan gila.
Dan jika kamu memutuskan untuk percaya, kemudian bertanya lagi, "Apa mereka benar-benar seram?"
Ya. Mereka seram, tergantung bagaimana cara mereka mati. Tapi, percayalah saat kubilang bahwa tak semua dari mereka hanya dapat mengganggu. Kadang, mereka juga dapat menjadi kawan yang baik melebihi manusia mana pun.
Seperti salah satu temanku, contohnya.
{END}
Honesty is expensive, therefore never underestimate people who tell the truth.
So Junghwan, si bungsu dengan senyuman yang seolah melukis kesempurnaan, hidup dalam sunyi yang menggigit. Bukan karena ia tak ingin bersuara, tapi karena dunia memilih untuk tak mendengar. Luka-luka tak kasat mata menggores dalam, sementara rasa sakit di sekujur tubuhnya menjadi pengingat kejam bahwa bahkan bernapas pun bisa terasa seperti hukuman.
Namun, di tengah kehampaan itu, ada doa yang terus ia bisikkan kepada langit yang tak pernah menjawab. "If I could live again," pikirnya, sambil menatap bintang-bintang yang terasa begitu jauh, "I'd wish to know how it feels to be loved by all my Hyungs."
Harapan itu kecil, rapuh, tapi indah-seperti kelopak bunga yang mekar meski dikelilingi musim dingin. Bahkan di dunia yang dingin, Junghwan percaya, cinta- sekecil apa pun- adalah alasan untuk tetap melangkah.