104 Days

104 Days

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 18, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Kata orang, masa-masa remaja adalah saat dimana kita rentan terhadap rasa. Entah itu rasa kecewa, sedih, senang, dan segala hal yang memang sudah seharusnya kita rasakan di masa itu. Mereka juga bilang jatuh cinta sudah sewajarnya dirasakan oleh remaja. Karena di fase itu lah awal dimana mereka merasakan dan mengenal apa itu cinta, dan bersiap untuk menjemput masa kedewasaan. Berbicara tentang cinta. Aku bukanlah seorang pakar cinta, apa lagi dukun cinta. Aku, Kalea Feranic. Remaja yang selalu berpikir bahwa sebenarnya cinta itu tidak ada, dan hanya buang-buang waktu saja. Awal yang selalu aku senangi pada diriku sendiri, aku tidak pernah mengkhawatirkan tentang bagaimana takdir cinta ku kelak. Tetapi, itu jauh sebelum aku bertemu dengan pria yang tidak pernah aku harapkan kehadirannya. pict on: pinterest
All Rights Reserved
#724
redflag
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • RIVER FOR BEGINNER
  • ALANAALANKA. [ ON GOING]
  • Jatuh, Suka Lagi ?
  • TOPENG [END]
  • TIGA RASA BERBEDA
  • Ku Relakan Segalanya.!!
  • LEITHLEACH
  • BAD BOY SEKOLAH (SELESAI)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines