"Jangan pernah berjanji kalau akhirnya lo ingkari. Kenapa tuhan kasih harapan padahal dari awal tuhan tau itu cuma kebohongan?!"
Orang bilang satu hal paling menyakitkan dalam hidup manusia itu adalah kehilangan. Tidak salah, tapi Abrazar tidak sepenuhnya setuju. Yang lebih menyakitkan dan Abrazar benci dari kehilangan ialah kebohongan. Badan gagah dan wajah tampan yang selalu berekspresi dingin nan datar itu selalu berhasil menutupi sosok Abrazar yang sesungguhnya. Sosok yang sebenarnya juga rapuh dan butuh pelukan, sosok yang sebenarnya juga lemah dan bosan menelan pahitnya kekecewaan.
Samudera, satu-satunya tempat 'pulang' dan bersandar bagi Abrazar, satu-satunya manusia yang pernah menjanjikan kebahagiaan bagi Abrazar, dan satu-satunya orang yang menjadi alasan bertahan bagi Abrazar. Namun dalam satu kedipan mata, kemana sosok itu menghilang? Sekejam itukah takdir mempermainkan Abrazar? Setega itukah tuhan hingga tidak membiarkan Abrazar bahagia?
Hingga akhirnya, kehadiran Geondra De Casa, seseorang yang tak Abrazar kenal tanpa izin memasuki dunia suram miliknya dan sialnya, apapun yang ada dalam diri Geo sedikit banyak mengganggu Abrazar. Ini hanya kebetulan, bukan? Tidak, Abrazar tidak cukup gila untuk mempercayai novel fiksi tentang orang yang berpindah jiwanya. Tapi bagaimana bisa sosok asing ini begitu mirip dengan Samudera?
"Dera, gue capek. Gue bingung. Lo dimana, Samudera? Gue ingin percaya lo akan kembali. Tapi jika memang gue salah, plis bawa gue pergi sama lo!" - Abrazar Maldava Alterio.
"Zar, percaya sama gue. Gue nggak akan pernah pergi, kecuali Tuhan yang meminta gue kembali." - Samudera Maldava Alterio.