I'm Ibel

I'm Ibel

  • WpView
    Reads 340
  • WpVote
    Votes 55
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 11, 2024
"Setiap luka pasti ada obatnya kan? dan kamu mampu jadi obat luka aku. Aku siap buat terluka, tapi aku mau obatnya cuma kamu." - Mahen "Kata kamu aku obat bagi luka kamu? itu semua salah mahen. Yang ada kamu obat bagi luka aku, tanpa ninggalin jejak sedikitpun." - Ibelia Ibelia putri baskara, nama lengkap dari seorang gadis yang sedikit ada masalah dalam hal mentalnya. Dia yang sering overthinking, gampang nangis dan mudah menyalahkan diri sendiri. Ibelia memiliki trauma yang membuat dirinya susah untuk percaya pada orang lain. Tapi semenjak kenal dengan pria bernama Areksa Mahendra, dia mampu jadi diri nya sendiri. Ternyata dibalik masalahnya itu semua, ibelia adalah gadis yang ceria, humoris dan sedikit jail. Semua yang ada padanya akan selalu dipuji oleh mahen. Mahen mampu membuktikan ibelia berhak mendapat cinta sehebat itu darinya.
All Rights Reserved
#353
softboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Marsella (1)
  • Topeng di balik Senyuman
  • Imperfection : Trapped With Troublemakers✓ [Republish+Remake]
  • Sejenak Luka
  • MEMELUK LUKA [END]
  • Shena Aquella {SELESAI}.

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines