Sulung.

Sulung.

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 22, 2026
Wanita itu berjalan, menarik keras kaki kanannya yang tergores benda tajam. Tubuhnya kurus, rambutnya sebahu semrawut. Baju yang ia kenakan terbalut bercak-bercak tanah bercampur titik-titik darah. Matanya berputar, sendu memandang hamparan air yang mengalir di hadapannya. Telinganya tertutup rapat-rapat. Pelan-pelan jemarinya mengusap perutnya yang bulat sempurna. Tak lama, deras air memeluknya. Menelisik lembut ke sela-sela tubuhnya, berharap ia bisa beristirahat dengan tenang. Denyut nadinya ia lemparkan pada ikan-ikan kecil yang mulai mengerubunginya. Di tengah-tengah sosok itu menggapaikan untuk kembali ke permukaan. Tergopoh-gopoh mengulurkan tangan, tapi ia memilih tak membalas.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • All The Memories {Elemental Boboiboy} [SLOW UPDATE]
  • The Destroyed House || Ice Allexan Allvaro [Selesai]
  • Save and Protect
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Last Letter
  • Angel To Raya (END)
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)

Nyatanya, mereka bertiga tidak sebahagia yang orang lain pikirkan. Di balik tawa dan senyuman yang mereka tunjukkan, terselubung luka yang tak seorang pun mampu melihat. Taufan yang ingin diakui keberadaannya. Ice yang mendambakan kebebasan. Dan Thorn yang haus akan apresiasi dari sang Bunda. Taufan terus mencoba membuktikan dirinya sendiri, berusaha untuk diakui, meski dirinya seringkali tak dihargai. Ice, meskipun selalu tampak tenang, namun ia terjebak dalam batasan tubuhnya yang rapuh, bermimpi bisa merasakan bebasnya dunia tanpa halangan apapun. Thorn, dengan segala usahanya, merasa tak pernah cukup baik untuk mendapatkan kasih sayang yang tulus dari sang Bunda. Di dunia yang mengagumi harmoni, tak ada yang tahu bahwa kehancuran perlahan mulai menghantui. Tapi, sampai kapan mereka bisa bertahan dalam diam? Sementara hati mereka perlahan terkikis oleh kesedihan yang mendalam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines