Nyai Kantil

Nyai Kantil

  • WpView
    Reads 4,788
  • WpVote
    Votes 182
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadComplete Thu, Jan 23, 2025
Menceritakan perjalanan seorang penari Jaipong yang difitnah warga sebagai seorang penari penggoda laki-laki, dan mesum. Marni merasa tidak melakukan hal itu semua. Kejadian keji terjadi, marni diserang sekelompok ibu-ibu yang merasa dirugikan atas hadirnya Marni sebagai penari warung kopi di desa Batu Legok, membuat para suami terbuai oleh kecantikan Marni. Kelompok ibu-ibu itu kemudian menganiaya Marni sampai membuat sekujur tubuh Marni dipenuhi luka menjijikan, dan membuatnya cacat, menutupi kecantikan Marni. Sampai akhirnya Marni pergi dari desa Batu Legok. Suatu ketika, Marni bertemu dengan sosok perempuan misterius. Pertemuannya dengan perempuan tua itu tidak disengaja, seakan dia mengetahui apa yang terjadi dengan Marni. Siapa sosok perempuan tua itu? Dan bagaimana nasib Marni selanjutnya, apakah dendam akan membawanya, membalas perbuatan keji orang-orang desa Batu Legok.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Dibalik Pintu [Bts Horor]
  • Leak
  • Teror Ribuan Pocong
  • ARWAH MANTAN PACAR CALON SUAMI
  • PERNAHKAH KAU MENCINTAIKU (END DI WEBNOVEL)
  • GIBAH DAN FITNAH - HOROR (FULL)
  • TAKUT MATI - HOROR DRAMA (FULL)

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines