Bagaimana jika Halilintar mengorbankan dirinya demi membawa kembali sang adik pulang ke rumah ? Itulah keputusan yang terpaksa ?-bukan, itulah keputusan sukarela yang Halilintar buat agar bisa mengembalikan senyum Gempa yang perlahan menghilang sejak kepergian Taufan. Bukan hanya gempa, adik nya yang lain juga sama, bedanya mereka tak ingin memperlihatkan hal itu.
"Sudah menjadi keputusanku"
Halilintar meyakini, itulah tugasnya sebagai seorang kakak, sebagai pelindung untuk keenam adiknya, walau ia harus menerima konsekuensi dari keputusan sepihak yang dibuatnya.
Namun Halilintar tak peduli akan hal itu, asal keenam adiknya bisa hidup bahagia, tertawa bersama, tak pernah merasakan yang namanya perasaan sakit, semua itu sudah cukup bagi Halilintar. Walau dirinya tidak bisa lagi hidup bersama mereka sejak ia berhasil mengembalikan Taufan kedalam keluarga kecilnya.
Karena mereka melupakannya....
Para elemental melupakannya....
Melupakan kehadiran Halilintar sebagai kakak mereka...
Karena seperti kata pepatah. 'Darah lebih kental daripada air'.
Mereka terpaksa untuk tinggal di satu atap yang sama, terpaksa untuk menerima keberadaan lainnya, terpaksa untuk harus memahami satu sama lain, dan terpaksa untuk percaya akan keajaiban pepatah tersebut.
Mengatakan untuk bisa menerima kenyataan itu mudah, namun nyatanya mereka harus bisa menekan ego masing-masing untuk bisa menikmati rasanya memiliki keluarga utuh.
Ini hanya sebuah cerita tentang bagaimana tujuh raga itu mencari arti keluarga sesungguhnya.
-Semua karakter milik Monsta, saya hanya meminjam karakternya saja.
-Cerita absurd nggak karuan.
-OOC(mungkin)
-Book dua ayank-ayank ku, masih pemula.
-vote dan coment ya:)
-Don't Plagiat! :)
- Taufan Centric guys, jangan salah lapak
Gambar dan cover yang saya masukkan berasal dari instagram atau pinterest
Cover cr X : @/yoonyeony