SUARA BIA (TAMAT)

SUARA BIA (TAMAT)

  • WpView
    Reads 14,341
  • WpVote
    Votes 376
  • WpPart
    Parts 47
WpMetadataReadComplete Tue, Jul 9, 2024
"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️
All Rights Reserved
#473
ptsd
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Apa yang Mereka tidak Tahu
  • Arunika
  • Kelas A [End]
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Cheerful Girl [ENDING]
  • Dari Nadya Menjadi Salsa Bersama Aidyn
  • GREENSTA [END]
  • Story About Him (SELESAI)
  • Paradise

[15+ Family and psychology] Aira Anidry tahu satu hal dengan pasti: berharap adalah cara paling cepat untuk hancur. Setiap kali ia menggenggam harapan-untuk dirinya sendiri, untuk keluarga yang tak pernah benar-benar memeluknya, untuk masyarakat yang gemar menghakimi, bahkan untuk Tuhan yang terasa begitu jauh-ia justru kehilangan kendali. Seolah hidup selalu menemukan cara untuk menertawakannya. *** Di rumah, Aira tumbuh di antara tatapan kecewa dan tuntutan yang tak pernah ada ujungnya. Di sekolah, ia belajar bahwa diam adalah satu-satunya cara bertahan dari ejekan dan hinaan yang tak kenal belas kasihan. Tidak ada yang tahu bahwa senyum tipisnya hanyalah topeng. Tidak ada yang sadar bahwa setiap luka yang ia telan perlahan sedang membunuhnya-sedikit demi sedikit. Aira berjalan menyusuri hidup seperti orang yang tersesat. Mencari ketenangan jiwa di tempat-tempat asing, sampai ia hampir lupa bagaimana caranya pulang. Karena sesungguhnya, Aira tidak lagi ingin dimengerti. Aira hanya ingin lenyap. Menghilang dari dunia yang tak pernah lelah menuntutnya menjadi sempurna. Start Update: 20/02/26 Finish:

More details
WpActionLinkContent Guidelines