Kamuflase

Kamuflase

  • WpView
    Reads 102
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Jun 25, 2024
Sejak menyaksikan kekerasan yang dilakukan atasannya kepada rekan kerjanya, Siera merasa hidupnya kembali terjerumus ke dalam ruang gelap yang dulu sudah dia lupakan. Ia muak pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa untuk rekan dan dirinya sendiri yang selalu menjadi korban. Hingga suatu hari, ketika kematian tragis menimpa sang atasan, Siera mulai merasakan kesenangan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Lalu, kematian-kematian itu terjadi beruntun, seolah mengikuti keinginannya. Namun, Siera mulai menyadari bahwa rentetan kematian itu ternyata membawanya ke dalam kenangan masa lalu. Monster itu telah kembali, dan sekali lagi berusaha meraih Siera, seperti dulu. [Pernah dipublikasikan di akun @annaxolovely]
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENGUMPAT !
  • Menjaga Monster
  • ✔A Shelter by the Lake
  • The Petal Rose (Bahasa)
  • THE SECRET OF RELYAN
  • 𝓑ehind the rain
  • Tuan Rumah di Kamar Sebelah
  • Melodi Kekacauan [Terbit]
  • The Comedian's Last Laugh
  • Bayangan Rahasia

Perempuan introvert ini mulai membuka diri, mulai bermain media sosial, lalu keanehan demi keanehan dalam dirinya mulai terjadi yang sekaligus menjadi penghubung antara masa lalu dan teman-temannya. "Aku berencana mengirimkan DVR ini bersama dengan seprei yang dipakai ketika malam pertama kami menikah. Barangkali terdengar konyol, tapi seprei ini ada noda bekas darah selaput perawanku, iya ini salah satu kenangan yang masih tersimpan rapih di kotak penyimpanan kamar tidur kami. Aku titipkan seprei ini kepadamu Eya. Jika nanti anak perempuanku sudah remaja tolong berikan kepadanya sehingga nanti dia bisa menjaga mahkota hanya untuk suaminya." Eya sering kali mengumpat dari rasa takut dan trauma yang sekaligus menjadi bentuk luapan dendam amarahnya. Segala hal mengenai kematian merangsek berubah menjadi obsesi. Kengerian-kengerian mulai mewujud dalam pikiran, seakan membabibutakan kesadaran, di antara nyata atau imaji hanya ada mati. Cattleya Kirana Dewi, adalah mimpi buruk bagi pikiran dan imajinya. Saat ajal mulai melingkari leher, mereka memohon kematian kepadanya, sedangkan kematian baginya hanyalah sebuah jembatan untuk menuju keabadian. Mengumpat di dalam kematian tidak lagi tabu bagi mereka yang menuju mati dalam umpatan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines