9 parts Ongoing Hujan turun pelan, merembes ke tanah yang mulai lembab. Langit kelabu, seperti menggambarkan sesuatu yang sudah lama terkubur-kesepian, harapan yang pudar, dan luka yang tak pernah sembuh.
Samuel berdiri di antara dua rumah, tapi tidak satupun yang benar-benar menjadi miliknya. Seumur hidupnya, dia hanya mengenal satu tempat: rumah neneknya. Di sana, dia tumbuh tanpa janji-janji manis, tanpa pelukan seorang ayah, tanpa suara lembut seorang ibu. Dunia mengajarkannya satu hal: bertahan adalah kewajiban, bukan pilihan.
Lalu, segalanya berubah. Pria yang seharusnya menjadi ayahnya datang, menawarkan sesuatu yang disebut keluarga. Kata-kata itu terdengar indah, tapi kosong. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang terasa lebih asing dari jalanan yang biasa ia lewati sendirian.
Tatapan mereka penuh tanya, seolah kehadirannya adalah kesalahan yang tak pernah bisa mereka terima. Langkahnya ringan, tapi hatinya berat. Ia ingin percaya, ingin menjadi bagian, tapi batas antara harapan dan kenyataan terlalu jauh untuk dijangkau.
Kesabaran, katanya. Sabar untuk diterima, sabar untuk dipahami. Tapi sampai kapan?
Sebab, bahkan keberadaannya sendiri terasa seperti sebuah kesalahan.
1/1/24 || foto berasal dri pin ||
{slow up}