Bantal Kusam

Bantal Kusam

  • WpView
    LETTURE 447
  • WpVote
    Voti 122
  • WpPart
    Parti 114
WpMetadataReadCompleta sab, giu 22, 2024
Kita kerap bercerita, akar-akar masalah ini belantara dari mana? Keputusasaan mengalir maunya apa? Kita sudah semakin tergenang di dalamnya. Hebatnya ujian pertemanan dan percintaan hanya kaulah yang tahu ke mana dan bagaimana. Buku ini sebagai pelampiasan kecewa versi diri kita. Tak ada yang tahu siapa membunuh siapa. Sampai pada kenyataannya, diri ini juga yang terbunuh, oleh rasa dengki, dendam, cemburu, pasrah, bahkan terlena. Hanya bisa bersandar di bantal kusam tanpa siapa-siapa.
Tutti i diritti riservati
#10
kumpulanprosa
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Pangeran Kegelapan
  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Boys With Luv
  • SEMESTA TAK AKAN MEMBENCI KITA YANG PERGI
  • Iyrin : Di Balik Sayap dan Bisikan (HIATUS)
  • The Real My Family {TAMAT}
  • AILAH(END)✅
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • AKSA [SELESAI]

Malam semakin larut, namun tidur menjadi hal yang mustahil bagi Mael. Setiap kali dia memejamkan mata, dunia di sekitarnya seakan berubah. Suara gemerisik dari sudut-sudut ruangan, desahan napas yang tidak berasal dari dirinya, dan bayangan-bayangan yang menari di balik tirai gelap kamarnya membuat dadanya terasa semakin sesak. Saat dia berbalik untuk kesekian kalinya di tempat tidur, suara itu kembali muncul-seperti bisikan yang tertiup dari balik dinding, rendah dan penuh kekuatan. "Mael... Kau tidak bisa lari..." Dia terlonjak bangun, matanya terbuka lebar, jantungnya berdetak keras. Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi. Dia duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam dan berusaha meredakan gemuruh di dadanya. Bisikan itu, suara yang sama dengan yang ia dengar di perpustakaan, menghantuinya lagi. Pikiran Mael kacau. Apakah ini nyata? Ataukah dia sudah kehilangan akal? Sejak mimpi itu, dunianya berubah menjadi labirin ketakutan yang tak bisa dia pahami. Mata Mael bergerak ke sudut kamar, ke arah bayangan yang terasa lebih pekat daripada biasanya. Di sana, samar-samar, dia melihat sesuatu. Sesosok tubuh samar yang menyatu dengan kegelapan. Tubuh itu bergerak perlahan, semakin dekat, seperti makhluk yang merayap dari kedalaman mimpi buruknya. "Siapa kau?" Mael berbisik, meskipun dia tahu tak ada jawaban.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti