Bantal Kusam

Bantal Kusam

  • WpView
    Membaca 447
  • WpVote
    Vote 122
  • WpPart
    Bab 114
WpMetadataReadLengkap Sab, Jun 22, 2024
Kita kerap bercerita, akar-akar masalah ini belantara dari mana? Keputusasaan mengalir maunya apa? Kita sudah semakin tergenang di dalamnya. Hebatnya ujian pertemanan dan percintaan hanya kaulah yang tahu ke mana dan bagaimana. Buku ini sebagai pelampiasan kecewa versi diri kita. Tak ada yang tahu siapa membunuh siapa. Sampai pada kenyataannya, diri ini juga yang terbunuh, oleh rasa dengki, dendam, cemburu, pasrah, bahkan terlena. Hanya bisa bersandar di bantal kusam tanpa siapa-siapa.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#75
katakatabijak
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • To the Happy Ending✓
  • Promise or Leave
  • The Grey Of SAKARUNA
  • Surat Untuk Perasaan Yang Tak dimengerti
  • Pangeran Kegelapan
  • Iyrin : Di Balik Sayap dan Bisikan (HIATUS)
  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • AKSA [SELESAI]
  • ALZEA (TERBIT)

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan