Beating The Beat

Beating The Beat

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 23, 2024
Di Sementari Cendikia High School, ekskul wajib bagi semua siswa, dan ekskul band sangat diminati. "Urban Fulse" adalah band terkenal di kalangan siswa, dengan anggota Djiwaka Jenandra Syazarano (drummer), Remyo Jeff Rizkiawan (vokalis), Jeremy Dewangga Prasetyo (bassist), dan Ed Khaziel Narendra (gitaris). Konflik besar terjadi ketika Djiwa terjerat hutang besar akibat judi online karna tekanan ekonomi, masalah ini membuatnya frustasi dikarenakan saat itu bandnya sedang berada di masa kejayaanya sehingga bisa diundang untuk mengisi salah satu acar televisi. . tetapi karna masalah ini menyebar di media sosial dan menarik perhatian luas, pihak televisi yang mengundang mereka akhirnya membatalkan acara tersebut. Akankah Djiwaka berhasil membersihkan namanya dan menyelamatkan band mereka?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • It's Always Been You✔️
  • TROUBLE MAKER ✔
  • 7DREAM | Transmigrasi Jeno ✓
  • Detektif: Rahasia Kasus Sekolah [HIATUS]
  • GRANDSON'S EYANG MUHSIN [ NCT DREAM] End
  • PINDAH RAGA
  • Crush Code •hyuckren [complete]
  • AMARINE [COMPLETED]✓

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines