Story cover for TULI by niningmymoonlight
TULI
  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Jun 24, 2024
Semua yang dialami mereka, aku berharap mereka tenang di surga.

"Satu, dua, tiga!" Bunyi suara manusia yang berkata sambil menunjukkan angka di jarinya.
Manusia itu mengambil foto yang penuh kenangan dan cerita dari keluarga yang hangat serta cemara itu. Sementara tiga bersaudara hanya bisa melihat itu dengan senyum pilu serta kesedihan yang tidak pernah berhentinya. "Aku harap aku bisa seperti mereka" kata saudara anak ke-2.
"semesta tidak memihak kepada kita dik, mungkin semesta baik terhadap kita, namun manusia yang jahat terhadap kita" kata saudara anak ke-1. Sementara saudara anak ke-3 seperti orang bisu tidak dapat berbicara apa-apa.


Bali, 2018
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add TULI to your library and receive updates
or
#917ningning
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Setiap Orang Ada Masa Nya -Enhypen cover
Renjana Niskala [slow up] cover
Forever just a dream (𝙊𝙣 𝙂𝙤𝙞𝙣𝙜)  cover
[~°°masa kecil yang hancur°°~] •~ countryhumans ~° [ Diberhentikan] cover
triplets éagsúla;Kembar Yang Berbeda cover
Promise cover
Suncold cover
Q'³ | Qiano-Qianzie-Qiana (HIATUS)  cover
Aksara Rasa cover

Setiap Orang Ada Masa Nya -Enhypen

21 parts Ongoing

tujuh sahabat, dipersatukan oleh luka, bukan tawa. Selalu berselisih, tapi tak bisa lari. mereka menelan pahitnya hari, bersama-dalam diam yang penuh amarah. mereka, tujuh jiwa yang saling bersandar dalam diam. masing-masing menyembunyikan luka yang dalam-tak ingin dikasihani, tak ingin membebani. mereka tertawa di luar, tapi tenggelam perlahan di dalam. Karena bagi mereka, menjadi beban adalah luka yang lebih menyakitkan dari apapun. di antara tujuh sahabat itu, ada dua lelaki Riki dan Sunoo yang selalu tersenyum paling lebar, seolah dunia tak pernah menyakitkan. tapi di balik tawa mereka, tersembunyi kenyataan pahit: rumah tak pernah jadi tempat pulang. Mereka tak pernah benar-benar dianggap oleh keluarga, hanya bayangan yang berjalan di sela harapan yang hancur. Ceria mereka adalah topeng, dan luka yang mereka pendam... terlalu dalam untuk bisa diceritakan. mereka bertujuh, seolah kuat, seolah utuh. tapi di balik tawa yang mereka bagi, tersembunyi kesunyian yang tak pernah selesai. entah luka dari keluarga, cinta yang tak pernah kembali, atau perasaan tak pernah cukup, masing-masing menyimpan perangnya sendiri. tak satu pun yang bersuara, seakan takut menyusahkan. Mereka memilih diam, karena bagi mereka, membebani orang lain adalah dosa yang lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri.