Callistoz Fairy

Callistoz Fairy

  • WpView
    Reads 351
  • WpVote
    Votes 140
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 11, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Bagaimana jika selama ini kehidupan yang kamu jalani penuh dengan ketidak sesuaian kepercayaanmu? Leo seorang pria dengan ketampanan nyaris abadi, dipenuhi tanda tanya akan parasnya yang seakan tidak pernah menua. Konon selain vampir, peri juga memiliki paras bak ilusi. Menjadikan Leo percaya bahwa ia bukan satu-satunya yang meragukan keaslian gen manusia pada dirinya. Pria itu tidak menyangka akan berpetualang di Negeri dongeng kastil tua di buku fiksi. Kecerobohan pendahulunya, membawa kaki pria itu menuju magis yang tak terduga. Akankah Leo bisa kembali? Lalu bagaimana jawaban dari pertanyaannya selama ini? Akankah terjawab dalam perjalanan ini?
All Rights Reserved
#22
kastil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Princess of Perseus
  • Grin Like A Cheshire [On Going]
  • The Essence Of The World : Thunderstorm (Book 1)
  • [Majapahit] Forgive Me For Everything
  • Eternal Kindness (Princess Giania And The Witch From The Past) [COMPLETED]
  • ALVANNA
  • Garwa Sang Tumenggung
  • Terjebak di Pasar Anjaya Bawakaraeng
  • Transmigrasi Arabela - Descendants [COMPLETE]

Aula Aetherium bergema oleh napas lega, panji-panji tua menggantung seperti saksi bisu di atas sosok berlutut yang namanya telah berlari mendahului kebenaran, dan aku berdiri di antara mereka, menyaksikan para pemegang kuasa dan mereka yang percaya mengukuhkan keyakinan menjadi perayaan, seolah ketakutan dapat diakhiri dengan memenggal seorang manusia. Ketika algojo mengangkat pedangnya dan sebuah suara berbisik, "Dialah yang akan mengakhiri dunia ini," kata-kata itu jatuh ke dadaku bukan sebagai keadilan, melainkan sebagai restu untuk berhenti bertanya. Aku telah membaca lembar demi lembar masa lalu, menautkan jejak yang terserak, mengikuti kisah itu hingga semuanya menunjuk ke titik ini, namun pada saat sorak membumbung dan bilah pedang tertahan di udara, yang kurasakan hanyalah sunyi yang ganjil, kehampaan yang dingin, seakan kebenaran telah melintas pergi sementara kami sibuk menyepakati wujudnya. Lelaki itu tak menyerupai akhir, ia lebih tampak seperti jawaban yang disusun dengan rapi agar tak ada lagi pertanyaan yang perlu diselamatkan, dan ketika kerumunan menuntut darah, aku terlambat menyadari bahwa Aetheria masih runtuh di bawah keyakinan kami sendiri. Sebab apa pun yang benar-benar mematahkan dunia ini tak pernah berlutut di hadapan kami. Ia berdiri tanpa nama di antara sorak-sorai, tenang, tak terlihat, dan menang. Dan baru kelak kami mengerti, hari itu bukanlah awal keselamatan, melainkan saat ketika sesuatu yang jauh lebih sunyi akhirnya dibiarkan bebas.

More details
WpActionLinkContent Guidelines