Embun di tiap pagi

Embun di tiap pagi

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 30, 2024
Embun tidak pernah berharap pada waktu, sebab waktu tidak ada yang tahu. Mungkin seiring waktu berjalan dapat terjadi hal baik, begitupun sebaliknya. Kita tidak dapat menebak waktu, hanya perlu berusaha saja agar mendapatkan apa yang diharapkan. Embun tidak pernah menyangka dunia akan sekeras ini, untung nya ada Bumi di sisinya, Bumi lah yang menjadi semangat hidup Embun. Setelah Ibunya meninggal, semua hal yang mereka punya tiba-tiba hilang, dan sampai sekarang Embun tidak berharap itu kembali, Embun akan berusaha sendiri dari awal.
All Rights Reserved
#318
adik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit di Ujung Dapur (TERBIT)
  • Bukan Istri Pengganti
  • Sialnya Jadi Mandiri
  • A Life That Turns
  • Ѕᥱ⍴ᥙᥴᥙk Ѕᥙrᥲ𝗍 || Choi Beomgyu
  • Fei 2: A Step Forward
  • TOPING BUMI
  • Ombrophobia (COMPLATE)
  • Langit dan Bumi
  • Keluarga di Ujung Senja

Di sebuah rumah sederhana yang dindingnya mulai mengelupas dan atapnya bocor saat hujan turun, tinggal seorang ibu bernama Bu Saras, bersama ketiga anak lelakinya: Rega, Gibran, dan Damar. Mereka hidup dalam keterbatasan, namun dapur tua di belakang rumah selalu mengepul-bukan karena masakan yang mewah, tapi karena cinta dan harapan yang tak pernah padam. Setiap pagi, dari jendela kecil di ujung dapur itu, Bu Saras memandang langit yang sama-langit yang ia yakini akan menjadi saksi perjuangan anak-anaknya menuju kehidupan yang lebih baik. Bagi Bu Saras, langit itu adalah simbol mimpi, doa, dan masa depan. Cerita ini mengikuti perjalanan panjang tiga anak laki-laki yang tumbuh dalam didikan keras namun penuh kasih seorang ibu yang memilih berlapar demi menghidupi mereka. Rega yang mengejar pendidikannya dnegan pengalaman, Gibran yang menemukan jati diri lewat seni, dan Damar, si bungsu yang diam-diam menyimpan impian besar yang bahkan tak berani ia ucapkan. Namun kehidupan tak selalu memberi waktu. Ketika mereka mulai mengecap sukses masing-masing, Bu Saras telah pergi-meninggalkan hanya kenangan dan langit biru di ujung dapur yang dulu menjadi saksi segalanya. Kini, mereka harus menemukan cara untuk membayar cinta yang tak pernah menagih, menyatukan kembali nilai-nilai yang diajarkan ibu mereka, dan menjadikan warisan paling sederhana itu-kasih sayang, ketekunan, dan ketulusan-sebagai pondasi kehidupan mereka. "Langit di Ujung Dapur" adalah kisah tentang cinta yang tidak bersuara, tentang pengorbanan yang tidak dipublikasikan, dan tentang bagaimana warisan paling berharga tidak pernah datang dalam bentuk harta-melainkan dalam bentuk arah dan makna hidup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines