Aku Yang Merindukan Masa Lalu

Aku Yang Merindukan Masa Lalu

  • WpView
    Reads 65
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 26, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Siapa yang menyangka bahwa hari-hari biasa yang kamu lalui sebelumnya adalah masa-masa paling dirindukan di masa depan. Hal-hal kecil masa lalu yang terjadi setiap hari, seperti makan bersama keluarga lengkap, dibacakan dongeng ketika ingin tidur, bermain dengan teman sebaya sampai puas, masa remaja yang penuh dengan canda tawa, dan masa kuliah yang banyak memberikan pengalaman. Dulu kamu merasa hal-hal itu sangat biasa. Hingga tiba saatnya hari itu tidak lagi kamu dapatkan dan hanya menjadi keabadian dalam hatimu, itulah hari yang selalu kamu ingat namun selalu membuat kamu bahagia sekaligus sakit. Begitulah kisah ini tertulis, kisah dari seseorang yang merasa putus asa di masa kini dan sangat ingin kembali ke momen singkat yang berharga di masa lalu. Apakah ada yang merindukan momen masa kecilnya? Apakah ada yang merindukan keluarganya yang dulu? Apakah ada yang merindukan momen masa remajanya? Apakah ada yang merindukan masa SMA dan Kuliahnya? Apakah ada yang merindukan kebahagiaan yang terjadi pada masa-masa itu?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Rangkaian Aksara
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Cerita Tentang Kita

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines