SUMMER RAIN

SUMMER RAIN

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 30, 2024
Sebuah penyesalan akan datang di akhir, namun rasa sakit selalu abadi, bahkan jika ada obatnya semua orang pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, meskipun mereka akan membayar semua itu dengan penyesalan. Dunia tak pernah adil untuk siapapun, seperti halnya yang di alami Kalvanya. Ia adalah gadis korban bully di sekolah, hingga membuat ia hampir mengakhiri hidupnya. Atau Alreksa yang selalu hidup dalam kesepian tanpa keluarga. Bahkan Pragadipta yang selalu menyesali masalunya. Semua orang punya lukanya masing-masing, mereka hanya perlu di dengar. ••••• Suasana semakin hening, di tengah kegelapan samar terdengar lantunan nada piano dari luar kamarnya. Lelaki itu dengan pelan melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti nada yang semakin dekat. Kewaspadaan nya kian meningkat, tangan nya menggenggam pisau dengan kuat, seraya menuruni satu demi satu anak tangga Netra elang itu menelisik setiap sudut ruangan, tak ada siapapun di dalam kegelapan. Pandangannya tertuju pada kursi kayu yang sering di duduki ayahnya. Kelvin berjalan mendekat, nada itu pun terdengar semakin jelas. Netranya hanya menatap boneka kelinci yang duduk di kursi itu. Ia meraihnya, dengan ketakutan ia kembali menatap sekeliling, namun ia benar benar sendiri di ruangan gelap tersebut. Kelvin terperanjat kala ponselnya berdering, di layar tertera sebuah nomor tak di kenal, dengan ragu Kelvin mengangkat telepon itu. "Halo... siapa?" Tak ada jawaban. Hal ini membuat Kelvin semakin ketakutan. "Halo! Jangan bercanda deh" kesalnya. "Let's play a game" sebuah notif dari nomor yang sama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • A MILLION LIGHT
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • Assassin Girl [ Editing ]
  • Night Of Happiness (TAMAT)
  • ALYA
  • Trasmigrasi Queenzee

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines