Berpikir terlalu jauh bukanlah sebuah kesalahan. Tidak sedikit orang yang menjadikan hal tersebut sebagai antisipasi dari kekecewaan yang akan disodorkan dunia padanya. Sama halnya denganku, aku terlalu memikirkan hal-hal yang sulit untuk ku kendalikan. Aku takut semua angan-angan yang telah aku bangun hanya menjadi tulisan pudar yang bersarang di buku diaryku.
Hingga tiba di mana sesuatu yang bertentangan muncul di kepalaku, kutuliskan dalam sebuah cerita panjang, dimana berisikan tentang aku yang ingin menentang keadaan "berpikiran terlalu" jauh tersebut, aku ingin menentang pikiranku sendiri. Sangat tidak masuk akal, harapku hanya menyelesaikan tulisan ku ini dengan baik, menyampaikan semuanya melalui tulisan yang takkan lebih baik saat kuceritakan secara langsung. Hingga mungkin salah seorang yang membacanya akan mengangguk dan mengatakan "sepertinya saya setuju dengan apa yang dia tuliskan," kemudian pada akhirnya aku dan seseorang ini akan saling memahami bahwasanya waktu takkan bisa diputar kembali, waktu yang menyenangkan takkan memeluk kita lagi saat di abaikan, dan terlalu dini untuk memikirkan hal-hal yang tak mampu kira kendalikan.
Intinya, aku ingin membuat orang-orang paham tentang kita yang tidak harus berpikir terlalu jauh, tidak ada yeng menuntut itu. Mulailah untuk memikirkan diri sendiri dan kebahagiaan nya telebih dahulu.
"PIKIRKAN SAJA SESUATU UNTUK HARI ESOK, NIKMATI HARI INI, DAN MANFAATKAN WAKTUMU SEBAIK-BAIK MUNGKIN"
Katanya, kadang untuk beranjak dan melanjutkan kehidupan perlu dibantu oleh orang lain...
"Aku ngerti, dia berarti banget buat kamu dan kamu nggak bisa dapetin dia, aku tahu. Makanya kamu pilih aku. Waktu kamu ajak aku jalan, aku tahu aku bukan pilihan pertama kamu. Aku udah siap dengan semua konsekuensi itu..."
...Dan menjadi realistis katanya adalah pilihan yang tepat,
"Terima kasih sudah menjaga aku tetap waras..."
Tapi bukankah, kebahagiaan seharusnya kita yang ciptakan sendiri?
"Kinan ingin berterima kasih pada mereka dengan cara berhenti bersedih dan mulai belajar menjadi bahagia tanpa bertumpu dengan orang lain.Kinan tahu ini mungkin nggak masuk akal buat sebagian orang. Tapi Kinan yang paling tahu diri Kinan sendiri. Kapan Kinan harus lari, kapan Kinan harus berhenti."
Dan menjadi realistis itu tetap harus jujur dengan perasaan kita sendiri bukan?
"Gue pengen memiliki lo bukan karena berkompetisi dengan siapapun. Bukan juga karena gue butuh seseorang di samping gue. Bukan pengen punya seseorang yang bisa gue pamerin ke orang-orang. Jadi jelasin sebelah mananya gue anggap lo barang? Menurut lo selama ini gue ngapain? Apa lo nggak sadar sama sekali?Does he love you better than I do?"
Ini adalah bagian akhir dari kisah klasik di antara empat orang yang harus mengurai benang kusut di antara mereka. Karena setiap orang punya ruang khusus untuk untuk seseorang yang sulit untuk digantikan oleh orang lain.Mereka mengukirnya sedemikian rupa hingga tak ada senyawa apapun yang mampu menghapusnya begitu saja.