Pangeran Santri

Pangeran Santri

  • WpView
    Reads 213
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Fri, Apr 11, 2025
WpInfo
Non-Fiction
Nadin mengira ia tidak akan berurusan lagi dengan ustad Akbar setelah kejadian memalukan itu di masjid. "Alhamdulillah,ana gak kedapetan diajar sama beliau" "Eh,jangan ngomong gitu.Siapa tahu nanti SMA antum nahwu sharaf nya sama ustad Akbar?" "Ya,gak mungkinlah Pip"Nadin menjawab dengan penuh percaya diri.Padahal kan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.o Bisa jadi pertemuan yang kita pikir menyebalkan justru adalah pertemuan yang kita nanti.Tidak ada yang tahu,kan.Karena hanya Allah SWT yang tahu apa yang kita butuhkan. Penasaran,kejadian apasih yang sampai membuat Nadin tidak mau berurusan lagi dengan ustad Akbar?Atau bagaimana reaksi Nadin saat dipertemukan lagi dengan ustad Akbar? YA MAKANNYA BACA DONG
All Rights Reserved
#66
realmadrid
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secretly Looking at You (END)
  • Astagfirullah, Mantan! [RE-UPLOAD]
  • Catatan Hijrah
  • BAD BOY AFAN
  • ARGANNISA (HIATUS)
  • Anta Habibi Anta "AssHab2"
  • Dinda Anastasya [✔️]
  • Arkansa
  • Ijbar [Selesai]
  • Menjadi Imam Untukmu✔(Selow Update)

"Ich liebe dich, Bapak Ridan." Tanpa malu, Anya mengucapkan hal itu. Ridan yang mendengarnya dibuat tertegun. Pasalnya, gadis remaja itu mengucap kata cinta padanya--guru yang memiliki perbedaan usia nyaris 20 tahun. "Dia lagi latihan buat drama, Pak," sahut Apin yang muncul dari belakang, langsung membekap dan memiting leher Anya, kemudian menyeretnya pergi. "Ada tugas dari guru Bahasa Indonesia." Pian merasa harus ikut andil untuk menghentikan tindakan Anya yang tiba-tiba itu. "Temanya ucapan kasih buat guru, sepertinya Anya salah paham sama penjelasannya. Permisi, Pak," jelas Pian yang bergegas pergi menyusul Anya dan Apin. Pipit yang berada di belakang mereka memandang Ridan dengan tajam. Ridan menghela napas, mulai lelah berurusan dengan siswa julid yang satu ini. "Kamu mau ngomong apa, Vitra?" "Makanya, Pak, cari pacar. Masa ditembak sama anak SMA," kata Pipit sebelum berlalu pergi dengan kedua tangan berada di saku celana. Ridan hanya bisa mendengkus dengan mulut terbuka. Sepertinya ia harus meninjau ulang keputusannya pindah ke SMA Merpati yang terasa seperti sebuah kesalahan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines