"Resah yang Tak Berujung"

"Resah yang Tak Berujung"

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 22, 2025
Pikiran yang tak henti berputar, perasaan yang tak kunjung menemukan jawab. Aku terjebak dalam pusaran keraguan, antara mencintai atau melepaskan, antara berharap atau mengikhlaskan. Setiap malam dipenuhi tanya, setiap langkah dipenuhi takut. Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika aku hanya menunggu sesuatu yang tak pernah nyata? Ini adalah kisah tentang hati yang gelisah, tentang perasaan yang menggantung di ujung ketidakpastian. Sebuah perjalanan tanpa kepastian, sebuah resah yang tak berujung.
All Rights Reserved
#242
keraguan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Surat Untuk Perasaan Yang Tak dimengerti
  • You're Here, But Not For Me
  • Senja Dan Jingga
  • Path
  • Resital Sunyi (End)
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • Malam Seribu Mimpi Buruk
  • Yang Tidak Terucapkan
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines