Sepotong Roti, Seribu Cerita
13 parts Ongoing Hujan rintik-rintik jatuh membasahi jalanan berbatu di sudut kota kecil itu. Udara membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi manis kayu manis dan vanilla. Di antara deretan bangunan tua, berdiri sebuah toko roti mungil dengan jendela kaca besar yang memancarkan cahaya hangat ke trotoar.
Di atas pintu kayu berwarna cokelat tua, papan nama "Autumn Loaf" bergoyang pelan tertiup angin. Toko roti itu tak pernah benar-benar sepi, meskipun hanya ada satu atau dua pelanggan yang duduk menikmati roti hangat dan secangkir teh. Di dalamnya, rak-rak kayu penuh dengan berbagai macam roti, dari croissant lembut hingga baguette yang renyah.
Di balik meja kasir, seorang pria dengan rambut berwarna merah tengah menguleni adonan dengan gerakan yang tenang dan penuh perhatian. Caine Chana, pemilik toko ini, telah menghabiskan separuh hidupnya menciptakan rasa yang bisa membangkitkan kenangan.
Baginya, toko roti ini bukan sekadar tempat berjualan. Setiap adonan yang ia buat memiliki kisahnya sendiri. Setiap pelanggan yang datang membawa cerita yang ingin mereka kenang atau lupakan. Beberapa datang mencari rasa masa kecil, beberapa ingin menghadiahkan roti untuk orang terkasih, dan ada juga yang hanya ingin merasakan kehangatan di hari yang dingin.
Dari balik jendela, Caine melihat seorang pelanggan masuk. Ia tersenyum kecil, menyambut dengan suara lembut.
"Selamat datang di Autumn Loaf. Apa yang bisa kubantu hari ini?"
Dan seperti itulah setiap kisah dimulai-dengan sepotong roti, secangkir teh, dan sebuah kenangan yang kembali teringat.