ame fragie (jiwa yang rapuh)

ame fragie (jiwa yang rapuh)

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 11, 2024
Apa aku nyerah aja, ya? Tapi... kalau nyerah sekarang, semuanya akan sia-sia. Tapi aku capek, boleh istirahat sejenak, kan? Tapi... kalau aku berhenti, aku akan tertinggal. Jalan yang aku pilih ini benar, kan? Kepalaku berisik banget. Besok, lusa, atau beberapa tahun ke depan, aku masih ada nggak, ya? Dialog ini selalu berputar-putar dalam kepalaku, menghantui setiap langkahku. Hingga kini, aku tak kunjung menemukan titik terang. Aku terjebak dalam keraguan yang tak kunjung reda, di antara mimpi yang terus menuntut, dan kenyataan yang mulai terasa terlalu berat untuk ditanggung.
All Rights Reserved
#174
arunika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Miracle of Survival [END]
  • Returning Dreams (A romantic novel based on a true story)
  • Mahligai Sunyi
  • Menyerah atau Bertahan?
  • I Wanna Die Soon (Beginning)✔️
  • Dalam Kepalanya yang Tak Pernah Hening

Aku pernah melangkah penuh percaya diri di kampus negeri, di mana mimpi-mimpi sederhana terasa seolah sudah ada di ujung tangan. Aku aktif, dikenal, dan percaya bahwa masa depan yang cerah hanyalah soal waktu. Tapi ketika ibu pergi, semuanya runtuh tanpa ampun. Sunyi menyelimuti rumah yang dulu penuh tawa, tabungan menguap seperti angin, dan Jati diri terhempas jauh melayang lalu sirna bersama rasa kecewa, Ayah terdiam dalam kebingungan, kehilangan arah yang dulu ia genggam erat. Aku yang muda, yang seharusnya berlari mengejar mimpi, terjerat oleh tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku berhenti kuliah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena harus memilih, melanjutkan mimpi yang kian menjauh, atau bertahan untuk keluarga yang runtuh. Hari-hariku berlalu begitu saja, menampung lelah yang tak selalu terlihat, dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus menghantui kenapa dunia ini tak selalu berpihak pada mereka yang berjuang paling keras? Aku merangkai kekuatan dari serpihan kehilangan, menenun harapan dari kegelapan yang pekat. Aku berdiri, walau rapuh, karena menyerah bukanlah bagian dari ceritaku. Perjalanan ini belum selesai, dan aku tahu, langkahku harus terus berlanjut, meski dunia kadang membelakangi dan meninggalkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines